Angkasa Pura 2

Ada 5 ABK Asal Indonesia

Otoritas Maritim Malaysia Pastikan MT Orkim Harmony Aman

Dermaga SDMJumat, 19 Juni 2015
MT Orkim Harmony

KUALA LUMPUR (beritatrans.com) -Otoritas maritim Malaysia memastikan, bahwa kru dan kargo kapal tanker MT Orkim Harmony yang hilang pada pekan lalu berada dalam keadaan aman. Sebanyak anak buah kapal (ABK) asal Indonesia bekerja di kapal tersebut.

Kapal tanker MT Orkim Harmony hilang pada Kamis pekan lalu, dengan membawa 22 awak termasuk lima yang berkewarganegaraan Indonesia. Kepala Angkatan Laut Malaysia, Laksamana Abdul Aziz Jaafar mengatakan bahwa kapal dibajak, dan setidak delapan orang bersenjata pistol dan parang berada di atas kapal Orkim Harmony.

Kapal mengangkut 6.000 ton minyak RON95 dan 22 anak buah kapal yang terdiri dari 16 warga Malaysia, lima warga Indonesia dan seorang warga Myanmar. Lokasi kapal sekarang berada di wilayah perairan Vietnam. Peristiwa itu merupakan perompakan kelima tahun ini yang terjadi di kawasan tersebut.

Media lokal Malaysia melaporkan sebelumnya bahwa Orkim Harmony telah terdeteksi di perairan Kamboja. Menurut Badan Penegakan Hukum Maritim Malaysia (MMEA), Kamis (18/6/2015), kapal berada di perairan Vietnam.

Kapal berbobot mati 7.300 ton tersebut dibajak pada 11 Juni sekitar 30 mil laut dari pelabuhan Johor Tanjung Sedili. Kapal membawa 50.000 barel RON95 bensin, seharga Rp53 miliyar.

Perusahaan minyak negara Malaysia Petronas mengatakan kepada Reuters bahwa Harmony membawa 6.000 ton metrik produk dari kilang Malaka untuk distribusi di Kuantan di pantai timur Semenanjung Malaysia.

The Orkim Harmony dioperasikan oleh Orkim Ship Management Malaysia. Kapal berawakan 22 orang, termasuk 16 orang warga Malaysia, lima warga Indonesia dan satu warga Myanmar.

Angkatan Laut Malaysia mengerahkan kapal KD Terengganu dan petugas menjalin komunikasi dengan nahkoda kapal melalui radio pada Kamis (18/6/2015).

Kepala Staf Angkatan Laut Malaysia, Laksamana Tan Sri Abdul Aziz Jaafar, mengatakan jumlah komplotan yang sudah terlihat di kapal sekitar delapan orang. Namun nahkoda tidak membolehkan kapal Angkatan Laut Malaysia mendekat. Dikatakan mereka antara lain bersenjata parang dan senapan.

Dalam pernyataannya, Tan Sri Abdul Aziz Jaafar menuturkan perompak berbicara dalam bahasa Melayu dengan aksen Indonesia. Menurut Direktur Jenderal Badan Penegakan Maritim Malaysia (MMEA), Datuk Ahmad Puzi Abdul Kahar kasus ini bukan pembajakan namun sebagai perampokan sebab pelaku tidak mengajukan tuntutan tebusan tetapi ingin menguasai kargo yang diangkut kapal.(hel/tribun)

loading...