Angkasa Pura 2

Pakar: Sepeda Motor Masih Dominasi Kecelakaan Selama Mudik Lebaran

KoridorSabtu, 20 Juni 2015
ARUS MUDIK MOTOR

JAKARTA (beritatrans.com) –Fenoman mudik Lebaran di Indonesia memicu peningkatan penggunaan kendaraan bermotor di jalan raya. Jumlahnya naik hampir dua kali lipat atau naik 200% dibanding hari-hari biasa.

“Konekuensinya juga menyebabkan terus meningkatkan jumlah angka kecelakaan dan korban meninggal di jalan raya. Ini masalah serius yang harus diantisipasi bersama,” kata pakar transportasi Unika Soegijopranoto Semarang Djoko Setijowarno kepada beritatrans.com di Jakarta, Sabtu (20/6/2015).

Menurutnya, hamper setiap tahun ada 30 juta orang Indonesia melakukan “ritual” mudik saat Lebaran tiba. Mereka yang bekerja di luar Jawa atau bahkan mukim disana kembali ke kampong halaman di Jawa. Demikian juga sebaliknya para perantau asal Minang, Medan, Makassar dan lainnya juga pulang mudik saat Lebaran tiba.

“Yang paling menarik, jumlah penggunaan sepeda motor juga naik saat Lebaran tiba. Banyak warga masyarakat yang mudik bersama keluarga dengan sepeda motor meski untuk jarak jauh dengan waktu tempuh sampai 10 jam atau lebih. Inilah yang riskan dan memicu terjadinya kecelakaan,” jelas Djoko.

Jumlah pemudik dengan sepeda motor, menurut Djoko sampai 21,5% dari total pemudik. Padahal, kendaraan roda dua itu tidak dirancang untuk kendaraan jarah jauh seperti mudik Lebaran. Selain itu, kondisi sepeda motor serta tingkat kelelahan penggunanya sangat rawan memicu kecelakaan.

“Fenomena mudik dengan sepeda motor memicu kecelakan naik sampai 200%. Data resmi yang dikeluarkan Mabes Polri meyebutkan, bahwa hamper 70% kasus kecelakaan selama arus mudik Lebaran melibatkan pengguna sepeda motor. Apalagi jika mereka sudah mengendarai sepeda motor cukup lama atau jarak tempuh sampai 10 jam lebih. Kondisi tersebut sangat rawan memicu kecelakaan bahkan jatuhnya korban jiwa,” papar Djoko.

Mengutip data Mabes Polri, tambah Djoko, jumlah kecelakaan sepeda motor selama arus mudik Lenaran dua tahun terakhir masih didominasi sepeda motor. Tahun 2013 jumlahnya mencapai 4.570 kasus dan tahun 2014 turun menjadi 3.869 kasus.

“Jumlah kasus kecelakaan sepeda motor dua tahun terakhir memang turun. Tapi angkanya masih tinggi dan memicu jatuhnya korban jiwa. Ini yang harus diantisipasi,” tandas Djoko.

Ketua MTI (Masyarakat Transportasi Indonesia) Jawa Tengah itu meminta aparat penegak hokum bisa melakukan penegakkan hukum secara tegas dan konsisten. “Larang penggunaan sepeda motor untuk pulang mudik saat Lebaran. Pemerintah bersama swasta terus membangun dan memperbaiki angkutan umum yang baik dan memadahi,” saran Djoko.

Masih tingginya penggunaan sepeda motor dan juga kendaraan pribadi untuk mudik Lebaran, tambah Djoko, salah satunya karena belum tersedia angkutan umum yang baik dan memadahi. “Memang moda KA dan pesawat terbang sudah makin baik. Kapal laut juga tersedia untuk tujuan luar Jawa,” sebut Djoko.

“Tapi, kapasitas yang tersedia belum cukup dibanding jumlah warga yang akan pulang mudik saat Lebaran. Intinya, angkutan umum di Indonesia masih harus ditambah lagi, sekaligus ditingkatkan kualitas pelayanannya,” tegas Djoko.(helmi)