Angkasa Pura 2

Mudik Ke Jawa Tengah dan Yogyakarta Lancar

Pakar: Faktor Psikologis Paling Banyak Mempengaruhi Keselamatan Mengemudi

KoridorKamis, 25 Juni 2015
tmp_22315-80472_jalan_tol_bogor_outer_ring_road__borr__di_kedunghalang__bogor_663_382-1674917842

JAKARTA (beritatrans.com) –Pakar transportasi Unika Soegijopranoto Semarang Djoko Setijowarno,ST, MT menyarankan, warga masyarakat yang akan pulang mudik dan melintas tol Cipali untuk menjaga kesehatan badab. Kondiis fisik pengemudi harus dijaga sehingga aman dan selamat melintas di jalan to Cikopo-Palimanan (Cipali). Selama kondisi badan pengemudi prima, tak masalah.

“Melihat kondisi terakhir, jalan tol Cipali bagus. Justru kondisi psikologis pengemudi yang harus diperhatikan. Selama badan sehat dan tetap hati-hati di jalan tidak masalah,” kata Djoko di Jakarta, Kamis (26/6/2015).

Menurutnya, dari pengalamannya melintasi jalan tol mulai Palimanan-Cipali sampai Jakarta bisa ditempuh lima jam. Perjalanan itu bisa ditempuh secara normal, maksimal kecepatan 110 km per jam, masih oke. “Yang penting, kondisi pengemudi tetap prima,” tandas Djoko lagi.

Terkait banyaknya kasus kecelakaan di tol Cipali, mengutip data Polri sudah 30 kasus kecelakaan dengan tiga korban meninggal dunia, tambah Djoko lebih karena faktor psikologis. “Mentang-mentang di jalan tol, terus memacu kendaraan seenaknya. Inilah faktor pemicu kecelakaan yang sebenarnya,” terang dia.

Kalau soal rambu-rambu, lampu penerangan jalan dan lainnya itu bisa dilengkapi menyusul. Intinya, arus mudik Lebaran menuju Jawa Tengah dan Yogyakarta makin cepat dan lancar.

“Pemerintah sebagai regulator dan operator jalan tol memang harus melengkapi rambu-rambu itu. Tapi, menjelang arus mudik Lebaran nanti, yang harus dipersiapkan justru kondisi psikologis pengemudi, menjaga kesehatan dan tidak panik. Dan satu lagi, jangan coba-coba melanggar aturan,” urai Djoko.

“Saya fikir, rambu-rambu kurang berarti kalau pengemudinya tak hati-hati. Faktanya, banyak pengemudi yang abai justru berbahaya. Banyak kasus selama ini orang mendapatkan SIM dengan cara “membeli” atau SIM tembak. Profil pengemudi seperti itulah yang justru berbahaya,” tandas Djoko.(helmi)