Angkasa Pura 2

2,5 Jam Sekali Terjadi Kecelakaan Di Tol Cikampek, Ayo Junjung Keselamatan Berlalulintas!

KoridorFriday, 3 July 2015

JAKARTA (beritatrans.com) – Ada papan pengumuman tentang Data Kecelakaan Jalan Tol Jakarta – Cikampek, yang antara lain dipampang di sisi utara jalan bebas hambatan, tepatnya jelang Pondok Gede ke arah Bekasi.

Bisa jadi banyak pengendara mobil, bus atau truk, yang tidak memerhatikannya. Memang sulit bagi pengendara untuk sejenak melihatnya karena kebutuhan untuk berkonsentrasi penuh selama mengemudi.

Namun sesungguhnya billboard itu bercerita begitu banyak, termasuk tentang nilai betapa begitu banyaknya kejadian kecelakaan, juga teramat besar orang yang harus sia-sia meregang nyawa di jalan.

Di dalam cerita itu, tentu saja ada keprihatinan terhadap masih belum dipatuhinya keselamatan dalam berkendara. Aspek disiplin dan tertib berlalulintas terkesan terpinggirkan.

Beritatrans.com sempat mengabadikan papan tersebut dalam foto. Setelah diperhatikan data yang tertera ternyata amat mengejutkan. Sekali lagi, keselamatan berlalulintas tampaknya masih belum menjadi ruh seluruh pengendara.

Di papan itu tertulis data Mei 2015. Ada 266 kali kecelakaan, dengan 15 orang meninggal dunia, 87 luka berat dan 70 luka ringan. Jelas terlihat bahwa korban luka berat lebih besar daripada luka ringan.

Dari data itu, bisa ditarik kesimpulan bahwa di Jalan Tol Cikampek selama Bulan Mei 2015 atau 31 hari, maka terjadi rata-rata 8,56 kali kecelakaan per hari atau dibulatkan menjadi 9 kecelakaan setiap hari.

Data juga memperlihatkan dalam dua hari sekali rata-rata ada satu orang yang kehilangan nyawa. Untuk korban luka berat, rata-rata per hari 2.8 orang atau dibulatkan menjadi 3 orang per hari.

Kalau data Mei itu ditarik menjadi basis angka konstan untuk perhitungan kumulatif selama satu tahun, maka dapat diasumsikan bahwa selama tahun 2015 terjadi 3.192 kecelakaan dengan korban tewas 180 orang, 1.044 orang luka berat, dan 840 orang luka ringan.

Korban meninggal dunia dan luka berat tersebut bukan tidak mungkin merupakan keluarga atau setidaknya orang yang secara tunggal menjadi pencari nafkah dalam keluarga. Dengan demikian, begitu banyak keluarga yang harus menderita sebagai dampak dari kecelakaan tersebut.

Untuk korban luka berat, kemungkinan besar merupakan orang – orang dengan usia produktif. Cacat akibat luka berat itu menghempaskan dirinya untuk menjadi manusia yang lebih bermanfaat untuk masa depan dirinya, keluarga dan masyarakatnya.

Dari sisi finansial, di samping adanya risiko kerugian akibat kerusakan kendaraan, juga menimbulkan biaya relatif besar untuk pengobatan dan perawatan.

MASIH NEKAT?
Dengan fakta dan asumsi tadi maka dapat dipertanyakan kepada pengendara pengguna Jalan Tol Cikampek, apakah masih nekat untuk mengabaikan disiplin dan tertib berlalulintas.

Celaka dan umur memang urusan Sang Khaliq. Tetapi masih terbuka ruang kesempatan bagi manusia untuk memperbaikinya lewat usaha dan doa.

Salah satu usaha terbesar dalam konteks berlalulintas adalah menjunjung tinggi aspek keselamatan. Keselamatan yang justru untuk kepentingan diri sendiri dan keluarga. Bukankah keluarga menunggu kita tiba selamat di rumah?
(Agus Wahyudin).