Angkasa Pura 2

Ironis, Aksi Penyerangan Anggota Polri Terjadi di HUT Bhayangkara

Aksi PolisiSabtu, 4 Juli 2015
anggota Polri

JAKARTA (beritatrans.com) – Tiga aksi penyerangan kepada 10 anggota Polri terjadi di tiga tempat berbeda di Sulawesi. Ironisnya, aksi penyerangan itu dilakukan bersamaan dengan perayaan Hari Bhayangkara. Akibat penyerangan ini satu polisi tewas dan dua luka parah.

“Kasus itu sangat memprihatinkan dan jangan sampai terulang kembali. Polisi sebagai aparata penegak hukum dan penjaga keamanan harus duhargai. Sebagai negara hukum, aksi main hakim apalagi yang menjadikan aparat Polri sebagai korbannya sangat memprihatinkan dan sekaligus harus menjadi bahan evaluasi pihak Polri,” kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S.Pane di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, aksi penyerangan pertama terjadi pada 1 Juli 2015 tengah malam. Empatkamar kos anggota Polda Gorontalo dilempari bom molotov oleh orang tak dikenal. Beruntung keempat anggota polisi itu selamat dari serangan tapi kamar kosnya hangus terbakar. Penyerangan kedua terjadi di rumah pribadi Komandan Satuan Brimob Polda Gorontalo, di Kecamatan Sipatana, Kota Gorontalo.

Rumah itu dilempari bom molotov oleh orang tak dikenal pada Rabu dinihari pukul 02.30 WITA. Akibatnya, kaca jendela bagian depan pecah dan api membakar gorden rumah namun berhasil dipadamkan.

Penyerangan ketiga dialami lima anggota Shabara Polres Gowa, Sulselbar, yang diserang sekelompok orang tak dikenal saat bertugas di pos penjagaan. Dalam serangan itu Briptu Irfanudin tewas dan dua rekannya luka parah di RS Bhayangkara Makassar.

Menurut IW, diduga penyerangan ini terkait dengan aksi balapan liar. IPW prihatin dengan berbagai aksipenyerangan ini dan hal itu menunjukkan bahwa kelompok kelompok yangagresif pada Polri masih bercokol kuat di masyarakat, terutama di kawasan Sulawesi, mengingat ketiga penyerangan itu terjadi di Sulawesi.

Melihat aksi penyerangan ini sudah saatnya jajaran kepolisian meningkatkan kepedulian, kepekaan, deteksi dini serta antisipasi agar tidak terus menerus menjadi bulan-bulanan kelompok radikal.

“Mabes Polri perlu membuat peta daerah rawan bagi anggotanya, sehingga polsek, polres dan polda di daerah rawan bisa benar-benar melindungi dirinya secara terlatih dan profesional. Sebab bagaimana publik bisa percaya dan merasa aman, sementara mereka melihat anggota Polri sendiri tidak mampu mengamankan dirinya sendiri dari serangan para kriminal,” jelas Neta.

Dalam HUT Bhayangkara 2015 ini, Neta, tambah Polri hendaknya benar-benar mampu meningkatkan keselamatan anggotanya dulu, sebelum mereka berslogan menjaga keamanan masyarakat.(helmi)