Angkasa Pura 2

IPW: Pejabat Kepolisian RI Tidak Sekadar Omong Doang

Aksi Polisi Another NewsSenin, 20 Juli 2015
neta s pane

JAKARTA (beritatrans.com) – Indonesia Police Watch (IPW) berharap para pejabat kepolisian tidak sekadar omdo alias omong doang. Omongan harus ditindaklanjuti dengan kerja nyata dan meningkatkan kinerja bawahan. Artinya, ketika pemetaan daerah rawan itu sudah dipaparkan, kinerja jajaran kepolisian di daerah rawan tersebut pun sudah harus disiagakan.

“Jangan sampai ada celah, kerawanan itu meletus menjadi kerusuhan, seperti di Tolikara dimana mesjid dibakar saat jamaah sedang sholat Idul Fitri. Jika ada kapolsek, kapolres, dan kapolda tidak komit, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti jangan segan-segan untuk mencopotnya,” kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S.Pane saat dihubungi beritatrans.com di Jakarta, Senin (20/7/2015).

Dikatakan, saat ini masih banyak anggota Polri yang mau menjadi kapolsek, kapolres maupun kapolda, yang mampu menjaga keamanan wilayahnya. Kapolsek, kapolres, dan kapolda bukan raja kecil tapi pelayan masyarakat dan penjaga keamanan.

Selain meningkatkan kepekaan dan kepedulian para pimpinan kepolisian di daerah, menurut Neta Pane, ada dua hal lagi yang harus dilakukan Polri. Pertama, meningkatkan kinerja intelkamnya, terutama di daerah rawan konflik. Intelkam harus benar-benar menjadi mata dan telinga Polri dalam rangka melakukan deteksi dan antisipasi dini.

“Intelkam harus bisa mengubah kinerja Polri sebagai “pemadam kebakaran” menjadi “pengurai api” agar konflik tidak muncul ke permukaan,” sebut Neta.

Kedua, papar IPW, perlu meningkatkan koordinasi kerja antar institusi intelijen, yakni antara Intelkam Polri dengan BIN daerah dan intelijen TNI, sehingga terjadi sinerji yang solid untuk membangun kinerja dan tidak ada “pembusukan” atau saling “menjatuhkan” satu sama lain.

“Kedua hal ini menjadi prioritas tatkala Kapolri mengatakan bahwa Polri sudah memiliki peta daerah rawan konflik menjelang Pilkada serentak. Masyarakat tentu berharap peta itu tidak hanya sekadar dibuat dan kemudian disimpan di dalam laci,” pinta Neta.

Dia menambahkan, jika seua aksi kepolisiann itu dilakukan dengan baik dan benar sehingga “telur tidak menetas menjadi naga”. Selanjutnya, Polri tidak menjadi “pemadam kebakaran” dan masyarakat merasa nyaman.(helmi)