Angkasa Pura 2

Pemerintah Komitmen Tingkatkan Moda Angkutan Laut Nasional

DermagaSenin, 20 Juli 2015
Bobby Priok

JAKARTA (beritatrans.com) – Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan komitmen untuk meningkatkan pelayanan dan kenyamanan angkutan laut nasional. Kapal laut bisa menjadi solusi kemacetan dan kepadatan lalu lintas baik di jaur pantura atau pantai selatan Jawa.

“Moda angkutan laut nasional perlu terus ditingkatkan sehingga mampu memberikan kepuasan pelanggan termasuk saat arus mudik Lebaran. Moda angkutan laut dinilai cukup bagus, aman dan kapasitas besar sehingga bisa mengurangi beban dan kepadatan lalu lintas jalan terutama di pulau Jawa,” kata Dirjen Perhubungan Laut Capt. Bobby R. Mamahit saat dihubungi beritatrans.com di Jakarta, Senin (20/7/2015).

“Selama masa angkutan Lebaran 2015 sampai H+2, moda angkutan laut nasional telah mengangkut 801.956 orang. Khusus H+2 Lebaran atau Senin (20/7/2015) moda angkutan laut mengangkut 21.193 orang,” jelas Bobby lagi.

Sebelumnya, moda angkutan laut telah mengangkut penumpang dan sepeda motor gratis tujuan Jakarta-Semarang dan Jakarta Surabaya dalam beberapa kali pelayanan. Ditjen Perhubungan Laut mengoperasikan KRI Surabaya dan KM Dobonsolo untuk mengangkut pemudik dan sepeda motor gratis tujuan Surabaya dan Semarang.

Data Ditjen Perhubungan Laut menyebutkan, untuk angkutan mudik gratis dengan kapal laut berhasil mengakut 13.000 sepeda motor dengan 26.000 penumpang lebih. Mudik gratis dengan kapal laut itu dimaksudkan untuk menekan angka kecelakaan selama arus mudik terutama para pengguna sepeda motor. Selain itu juga mengurangi beban dan kepadatan lalu lintas terutama di jalur pantai utara Jawa (pantura).

Benahi Sistem Ticketing

Sebelumnya, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan mengkritik masih lemahnya sistem ticketing (pembelian tiket) untuk moda transportasi kapal laut di Indonesia. Pihaknya menegaskan untuk menghimbau pihak pengelola tiket agar mengoperasikan sistem online supaya keberangkatan kapal dapat terjadwal.

“Kapal laut yang dioperasi swasta itu, sistem tiketnya menurut saya tidak modern. Saya lihat di Banjarmasin itu sistem tiket kayak kertas, tidak ada harga. Kayak main-main saja. Saya minta untuk diperbaiki. Sistem tiketing itu hendaknya online. Jadi orang naik kapal gampang,” ujar Jonan di kantornya, Senin.

Jonan melanjutkan, jika sistem pembelian tiket dilakukan dengan sistem online yang terstruktur maka jumlah penumpang dan jadwal keberangkatan dapat terukur sehingga tidak ada lagi ceritanya penumpang yang kehabisan tiket ketika telah sampai di pelabuhan. “Jadi tidak ada yang balik lagi kalau sudah sampai di pelabuhan. Berarti harusnya bisa berangkat,” tambah dia.(helmi/awe)