Angkasa Pura 2

Kebakaran Hutan di Riau Mulai Ganggu Penerbangan

Bandara KokpitJumat, 31 Juli 2015
Karhutla

PEKANBARU (beritatrans.com) – Otoritas Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru mengemukakan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau mulai menganggu aktivitas penerbangan di Pekanbaru karena jarak pandang pilot kurang dari 1.000 meter.

“Jarak pandang pagi tadi 800 meter, sementara kita sudah buat aturan saat pesawat mendarat jarak pandang itu harus minimal 1.000 meter,” papar Kepala Divisi Pelayanan dan Operasi Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II, Hasturman Yunus di Pekanbaru, Kamis.

Kondisi tersebut, telah menyebabkan satu unit pesawat milik maskapai penerbangan berbiaya murah Citilink dengan nomor penerbangan QG 963 rute Jakarta-Pekanbaru terpaksa mutar-mutar di sekitar wilayah bandara setempat.

Padahal, sesuai jadwal pesawat Cilink berjenis Airbus A330-200 itu lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta Cengkareng, Baten tepat pukul 5.25 WIB dan mendarat di Bandara Internasional SSK II Pekanbaru sekitar pukul 07.00 Wib.

“Pesawat itu, sempat ‘holding’ di udara sekitar 30 menit. Kejadiannya sekitar pukul 07.00 WIB. Pesawat tidak mungkin mendarat karena landasan pacu kita tidak kelihatan dari udara,” katanya.

Selama bulan Juli 2015, sudah lima maskapai penerbangan dengan rute pendaratan di Pekanbaru terganggu akibat kabut asap karhutla di Riau.

Dari lima maskapai, ada dua yang terpaksa dialihkan pendaratan ke Bandara Internasional Hang Nadim Batam, dua maskapai yang delay atau tunda keberangkatan dan satu holding atau mutar-mutar.

“Kami tidak bisa berbuat apa-apa, jika kabut asap ganggu aktivitas penerbangan. Demi hindari kemungkinan kecelakaan, maka pesawat lebih baik dialihkan atau holding selama beberapa saat sampai kabut asap menipis,” katanya seperti dilansir Antara.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mencatat, berdasarkan pantauan satelit Terra dan Aqua pada Kamis (30/7) pukul 05.00 Wib mendeteksi 326 titik panas di Sumatera dan 186 titik diantaranya di Riau.

“Pagi tadi ratusan hotspot masih bermunculan di Riau yang tersebar di Pelalawan 60 titik, Inhu 54 titik, Inhil 45 titik, Siak 11 titik, Dumai 6 titik, Bengkalis 5 titik, Kampar 3 titik dan Kuansing 2 titik ” ujar Kepala BMKG Stasiun Pekanbaru Sugarin.

Selain di Riau, terangnya, hotspot atau titik panas di Sumatera juga tersebar pada enam provinsi.

“Untuk hotspot di Sumatera juga terdapa di Sumsel 42 titik, Jambi 51 titik, Lampung 8 titik, Bengkulu 6 titik, Sumut 3 titik dan Sumbar 2 titik” jelasnya. (aliy)