Angkasa Pura 2

Infrastruktur Telekomunikasi Dukung Peran Pelabuhan Jadi Pusat Logistik

LitbangMinggu, 2 Agustus 2015
harry

JAKARTA (beritatrans.com) — Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK) bagi Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Perhubungan Laut (Kapuslitbanghub Laut) Harry Boediarto krusial perananya.

TIK menjadi pedoman beroperasionalnya layanan transportasi dan logistik yang efektif, efisien, murah, dan integratif. Lewat Permen 74/2015, kata dia, semua kebutuhan telekomunikasi seharusnya sudah harus ada.

“Kebutuhan pembangunan infrastruktur telekomunikasi dalam rangka mendukung perubahan peran pelabuhan menjadi pusat logistik dengan pemanfaatan informasi multimedia untuk pelayanan operasional kepelabuhanan harus diwujudkan mulai sekarang,” jelas Harry kepada beritatrans.com, kemarin.

Hanya saja, lanjut Harry, pemerintah sendiri harus menyediakan prasarana TIK karena dunia usaha menuntut produksi tinggi dengan tingkat keselamatan yang tinggi pula.

Puslitbang Perhubungan Laut sudah memberikan paparan/masukan terutama untuk kalangan intern perhubungan bahwa operasional transportasi tak bisa lepas dari operasional logistik yang di dalamnya memuat keharusan kelengkapan infrastruktur TIK itu.

Jaringan Multimedia
Salah satu infrastruktur TIK itu memungkinkan tersedianya jaringan multimedia pada operasional di pelabuhan. Jaringan multimedia ini, lanjut Harry, mutlak diterapkan di 6 pelabuhan.

Dibanding wifi atau jaringan dengan serat fiber optic, jaringan ini membutuhkan bandwith yang relatif kecil untuk navigasi dan tracking di tengah laut.

Selain itu, kebutuhan bandwith yang melonjak menjadi pita lebar di pelabuhan untuk proses logistik.

Jika pun hingga hari ini, semua kebutuhan infrastruktur telekomunikasi untuk layanan logistik belum dipenuhi, kata Harry, semua diakibatkan oleh belum adanya koordinasi antar pihak terkait.

“Fungsi koordinasi itu kelihatannya mudah. Namun masih ada ego sektoral. Soal logistik saja belum di pahami semua pihak. Misalnya soal dwelling time. Nah, itu terjadi sebagai bagian dari penanganan logistik yang tak dipahami,” kata Harry.

Ia menambah infrastruktur TIK memastikan adanya kesamaan dokumen dan barang dalam layanan logistik dan transportasi.

“Untuk mencek barang harus ada RFIDnya untuk kapalnya harus ada GPS, prakteknya dilapangan masih sulit menyamakan keduanya dalam waktu yang sama.

Yang ada dokumen masuk, namun barangnya belum. Ini yang mau kita (Puslitbanghub Laut) bangun, perubahan fungsi pelabuhan terkait fungsi logistik. Harus canggih,” ungkap Harry.

Balitbang, kata dia, menawarkan koneksi teknologi untuk memurahkan dan memudahkan layanan jasa transportasi dan logistik yang profesional. Penggunaan telekomunikasi 2G atau 3G harus ditinggalkan.

“Karena semua perusahaan JPT pakai itu. Telekomunikasi 3 G menjadikan semua pengurusan layanan jadi lambat. Pemutakhiran telekomunikasi ini bisa menghemat biaya dan layanan logistik bisa dua kali efektifnya. Kita sudah pake aplikasi inaport nah tinggal upayaka bagaimana bisa cepat, ya lewat LTE 4G itu, cuma butuh satu tower, tapi jangkauannya luas ketimbang pakai serat optic harus gali dulu, makan waktu lama,” papar dia.

Ia menambahkan kebutuhan pembangunan infrastruktur telekomunikasi ini sudah pasti mendukung perubahan peran pelabuhan menjadi pusat logistik.

“Akan menghemat biaya, meningkatkan efisiensi, menghemat energi. Kalau dianalogikan, kita sudah punya mobil bagus Lamborghini misalnya, tapi kalau jalannya bolong-bolong percuma juga performa nya,” jelas Harry. (fenty)

loading...