Angkasa Pura 2

Pakar: Sopir Angkot Layak Mendapatkan Gaji Rp4 Juta Sebulan

KoridorSenin, 3 Agustus 2015
Angkot macet

JAKARTA – Sopir angkutan kota (angkot) harus disejahterakan oleh kepala daerah sebagai penguasa daerah atau anggota dewan yang otoritas mendorong kebijakan kepala daerah. Namun kini hanya sebagai tumbal demi kemenangan mereka. Ironis dan bahkan tragis dengan kondisi otonomi daerah sekarang semakin memojokkan kehadiran angkot sebagai sarana transportasi umum di daerah.

“Setidaknya sopir angkot itu mendapat gaji tetap bulanan minimal Rp4 juta. Bandingkan dengan penjaga pintu perlintasan sebidang jalur KA dengan jalan raya yang sekarang mendapat gaji Rp 4 juta sebulan,” kata pakar transportasi Unika Soegijopranoto Semarang Djoko Setijowarno kepada beritatrans.com di Jakarta, Senin (3/8/2015).

Menurutnya wajar, sopir angkutan umum itu sejahtera. Jangan seolah menjadi sopir angkutan umum adalah profesi warga melarat. Pemikiran yang sudah mengakar di masyarakat seperti itu harus segera dihilangkan.

Dengan sopir yang sejahtera, lanjut Djoko, akan mengemudikan kendaraan dengan tenang dan kenyamanan pasti akan dirasakan penumpang. “Agar bisa mendapatkan penghasilan Rp4 juta tersebut, sarana angkot harus dihilangkan, diganti sistem BRT (bus rapid transit). Tetapi, sopir dan keluarganya harus disejahterakan dengan cara mengalihkan profesinya,” jelas Djoko.

“Kurang manusiawi jika ada operasi BRT baru, namun operatornya juga baru. Sementara yang lama disingkirkan, seperti halnya operasi BRT Trans Semarang di koridor 1 dan 2,” kritik Djoko.

Jika tidak bisa menjadi sopir BRT, menurut dia, mereka bisa dipekerjakan di sektor lain atau ada anggota keluarganya yang bisa menggantikan. “Pemkot. Semarang mampu untuk mengoperasikan kridor BRT lebih banyak lagi,” papar Djoko.

Terlebih sekarang, menurut Djoko, Kemenhub meluncurkan bantuan armada 4.000 bus (2.000 bus besar dam 2.000 bus sedang) selama 3 tahun untuk 32 ibukota provinsi se Indonesia. “Tahun ini sudah dimulai 1.000 bus besar dan Kota Semarang mendapat alokasi 140 armada,” ujar Djoko.

“Ini momentum yang baik untuk membangun angkutan umum yang baik di Kota Semarang. Selain itu juga bisa meningkatkan kesejahteraan awak angkutan termasuk sopir angkot,” tegas Djoko.(helmi)