Angkasa Pura 2

Gapasdap Bayuwangi Sepakat Tak Operasikan Kapal LCT Di Selat Bali

DermagaSabtu, 8 Agustus 2015
tmp_22553-createimage_small.php1600601981

BANYUWANGI (beritatrans.com) – Asosiasi pengusaha penyeberangan atau Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) Banyuwangi, Jawa Timur, telah mengambil kata sepakat atau persetujuan agar kapal jenis LCT (landing craft tank), yang biasanya untuk mengangkut kendaraan barang, tidak beroperasi lagi di Selat Bali.

“Mereka bisa memahami kalau penghentian kapal jenis tersebut sudah melalui kajian yang mendalam. Hal itu disampaikan saat rapat koordinasi dengan pihak terkait,” kata Syahbandar Pelabuhan Gilimanuk I Nyoman Delon, Jumat (7/8/15).

Lebih jauh menurutnya, kesepakatan untuk menghentikan operasional kapal LCT dicapai dalam rapat koordinasi di Pelabuhan Ketapang, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Meskipun sudah ada kesepakatan, ia mengatakan, pantauan di lapangan tetap dilakukan dengan melibatkan aparat TNI dan Polri, termasuk di Pelabuhan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana.

Untuk mengangkut kendaraan barang seperti truk, agar tidak terjadi antrean panjang, akan dikerahkan armada Kapan Motor Penumpang (KMP) tambahan yang mampu mengangkut kendaraan dalam jumlah banyak. “Kami juga akan datangkan KMP tambahan dari Pelabuhan Tanjung Priok. Kapal ini berukuran besar, dan bisa menampung banyak kendaraan,” ujarnya.

Ketua Gapasdap Banyuwangi Novi Budianto saat dihubungi mengakui, pihaknya sudah setuju dengan aturan dari Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Kementerian Perhubungan tersebut, yaitu terhitung Senin (10/8/15) dinihari, operasinal kapal LCT dihentikan.

Menurutnya, dari 14 LCT yang saat ini beroperasi di Selat Bali, satu unit sedang dimodifikasi menjadi jenis KMP, sementara sisanya menunggu perkembangan. “Mengubah kapal jenis LCT menjadi KMP butuh biaya besar dan waktu yang lama. Pemilik kapal masih melihat perkembangan,” katanya.

Untuk karyawan di kapal LCT, ia mengatakan, diserahkan ke masing-masing direksi perusahaan kapal, yang kemungkinan bisa dipindahkan ke kapal lain.

Sebelumnya, saat aturan ini disosialisasikan awal tahun lalu, pada April 2015 terjadi pemogokan kapal LCT di Selat Bali, yang kemudian penghentian operasional kapal jenis ini ditoleransi pemerintah hingga Agustus 2015. (ant).