Angkasa Pura 2

Pakar: Ojek Bukan Alat Angkutan Umum

KoridorSabtu, 15 Agustus 2015
gojek

JAKARTA (beritatrans.com) – Kemunculan ojek marak pasca krisis 1998, ketika masyarakat sulit mencari pekerjaan. Kondisi tersebut makin parah juga karena kegagalan Pemerintah mengatur transportasi umum menyebabkan ojek menjamur.

Demikian disampaikan pakar transportasi dan Kepala Lab Transportasi Unika Soegijopranoto Djoko Setijowarno, kepada beritatrans.com di Jakarta, Sabtu (15/8/2015). “Fenomena ini layak diangkat sejalan dengan makin populernya angkutan sepeda motor, terutama Go Jek belakangan,” kata dia.

Menurutnya, Kepala Daerah juga sangat malas menata transportasi publik, karena sisa uang sedikit, bahkan mungkin tidak ada. Lain halnya kalo membangun tol, jalan lingkar, flyover/underpass.

Hal itu bisa ditebak, karena proyek infrastruktur itu bernuansa proyek yang sangat menjanjikan secara ekonomi. “Mereka masih bisa mendapat “bagian”. Oleh karena itu, layanan ojek harus diatur, tidak melebihi fungsi dari transpoetasi umum,” jelas Djoko.

Ojek, lanjut dia, hanya cocok untuk jarak pendek atau yang tidak terjangkau layanan angkutan umum. Apapun bentuk layanan ojek, tetaplah sepeda motor bukan kendaraan yang berkeselamatan.

“Kehadiran transportasi umum murah sangat dibutuhkan masyarakat dalam upaya mengurangi kemacetan dan menjamin keamanan penumpang. Aksesibilitas hingga kawasan perumahan sangat diperlukan,” sebut Djoko.(helmi)