Angkasa Pura 2

Studi Puslitbanghub Udara Balitbang Perhubungan

Peningkatan Transportasi Udara Harus Dibarengi dengan Tingkat Keselamatan

LitbangSelasa, 18 Agustus 2015
tmp_3446-united-express-airplane-takes-off-airport-plane-just-take-flies-past-radio-control-tower-51591124-1051849340

Jakarta (beritatrans.com) — Peningkatan kegiatan pada transportasi/angkutan udara semestinya dibarengi dengan tingkat keselamatan dan kenyamanan penerbangan yang disajikan oleh penyelenggara moda transportasi ini.

Kasus kecelakaan penerbangan yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini perlu mendapat perhatian serius karena selain menimbulkan kerugian material bernilai miliaran rupiah tapi juga menyisakan kesedihan dan penderitaan bagi keluarga korban kecelakaan.

Dan kecelakaan ini berdampak pada dunia penerbangan nasional. “Dampaknya lagi akan hilang kepercayaan pengguna jasa penerbangan di tanah air,” demikian pembukaan dari Executive Summary Studi Analisa Kecelakaan Penerbangan di Indonesia oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perhubungan Udara, Badan Litbang Perhubungan yang dirilis 2013.

Merujuk pada kecelakaan pesawat ATR Trigana Air IL267 rute Jayapura-Oksibil yang jatuh di kawasan pedalaman hutan Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Minggu (16/7), ternyata masih banyak operator bandara dan maskapai komersil yang belum taat aturan diantaranya tidak tersedianya ATC (Air Traffic Control) di Bandara Oksibil.

ATC berfungsi untuk pengaturan lalu lintas di udara terutama pesawat untuk mencegah antarpesawat terlalu dekat satu sama lain, mencegah tabrakan antarpesawat dan pesawat dengan rintangan yang ada di sekitarnya selama beroperasi.

Menurut studi Puslitbanghub Udara ini, keberadaan ATC salah satu wujud kesadaran perusahaan dalam hal ini operator pesawat dan operator bandar udara atas keselamatan penerbangan. Tidak adanya ATC sama dengan tidak adanya kesadaran akan keselamatan penerbangan sekaligus kurang baiknya pemahaman regulasi dan compliance dari personel pada setiap operator itu.

Dalam executive summary Studi Analisis Kecelakaan Penerbangan di Indonesia, Puslitbanghub Udara mencatat bahwa resiko kecelakaan penerbangan dari tahun ke tahun makin meningkat sejalan dengan kepadatan lalu lintas udara yang semakin tinggi.

Runway safety accident merupakan jenis kecelakaan yang tertinggi saat ini dimana fase approach dan landing merupakan fase paling kritis dan paling sering terjadi kecelakaan pesawat.

Selain itu diketahui penyebab kecelakaan sebagian besar karena human factor atau flight crew technique meski ada juga faktor lain yang berkontribusi terhadap kecelakaan itu.

Dalam studinya juga disebutkan adanya kelalaian di lapangan karena kurangnya standar kualifikasi personil mungkin dari kurang pelatihan atau pengawasan pelaksanaannya kurang ketat.

Puslitbanghub Udara dalam studi ini menilai perlu segera langkah inisiatif yang lebih sistemik dan komprehensif dalam mengelola keselamatan penerbangan.

Selain itu ada beberapa rekomendasi dan usulan yang seharusnya bisa diterapkan para pihak diantaranya; keharusan penyelenggara bandara sebaiknya mengukur standing water dengan suatu metode dan memberikan informasi braking action kepada penerbang.

Kemudian pada proses penanggulangan tanggap darurat sebaiknya dilakukan review AEP yang disesuaikan dengan kondisi lapangan (write what you do and do hat you write). Sangat perlu melakukan pengecekkan ondulasi dari runaway surface dengan metoda yang tepat/cocok.

Penyelanggara bandara juga agar dapat menyajikan informasi cuaca secara akurat dan memberitahukan jika terjadi perubahan cuaca yang cukup signifikan.

Memberikan pelatihan kepada key personel tentang regulasi penerbangan dan penerapannya. Harus juga menyiapkan compliance check list untuk proses sertifikasi bandara. Dan self audit baik secara inisial atau periodik.

Studi analisis ini juga memberikan rekomendasi harusnya menyusun program dan rencana aksi semisal, pemahaman tentang keselamatan penerbangan bagi pengguna jasa penerbangan. Lalu menargetkan tuntasnya audit minimal satu bandara sebagai project percontohan sekaligus review.

Target lain yang harus dicapai, menurut studi ini, diantaranya membuat juklak advisury circular (AC) tentang penyelenggaraan bandar udara. Serta mewujudkan Standar Operating Prosedure (SOP) yang memenuhi regulasi ICAO.

Studi Puslitbanghub Udara ini seharusnya menjadi acuan para pihak untuk lebih mengedepankan keselamatan dalam pelayanan penerbangannya. Hasil lengkap studi ini bisa didapatkan di Perpustakaan Badan Litbang Perhubungan, Jl. Medan Merdeka Timur No. 5, Jakarta Pusat. (fenty)

loading...