Angkasa Pura 2

Pakar: Subsidi BBM Tidak Tepat Sasaran

KoridorRabu, 19 Agustus 2015
Sepedamotor

JAKARTA (beritatrans.com) – Subsidi bahan bakar minyak (BBM) tidak tepat sasaran, karena lebih dominan dinikmati orang-orang yang tidak berhak. Masalah ini harus menjadi bahan evaluasi para pengambil kebijakan baik di pemerintah dan DPR.

Demikian disampaikan Kepala Lab Transportasi Unika Soegijopranoto Semarang, Djoko Setijowarno, ST, MT kepada beritatrans.com di Jakarta, Rabu (19/8/2015).

Menurutnya, subsidi BBM di APBN yang nilainya mencapai triliunan rupiah harus dipastikan tepat sasaran. “Subsidi hanya untuk orang-orang miskin atau usaha kecil yang layak dibantu,” kata Djoko lagi.

Realitas saat ini, banyak warga miskin sulit mendapatkan BBM subsidi. Bahkan, mereka tidak memiliki sepeda motor sekalipun.

“Masyarakat miskin yang biasa naik angkutan umum yang mendapatkan BBM subsidi kini juga kian memprihatinkan. Angkutan umum di berbagai daerah makin terpuruk bahkan di daerah tertentu justu tidak mempunyai angkutan umum yang baik dan harganya terjangkau,” kilah Djoko.

Data Lab Transportasi Unika Soegijopranoto menyebutkan, sepeda motor menguras 40% BBM subsidi. Sementara, angkutan umum hanya 3%.
“Selanjutnya, mobil pribadi 53% dan mobil barang 4%,” sebut Djoko.

Padahal 1/3 (sepertiga) kebutuhan BBM dalam negeri, menurut Djoko, harus diimpor atau volumenya mencapai 450 barrel/ hari.

“Makin banyak sepeda motor yang beroperasi di Tanah Air, akan semakin besar BBM subsidi yang dikuras dan merugikan negara,” tandas Djoko.

Dia menambahkan, perlu dicari formula subsidi BBM yang lebih baik dan tepat sasaran. “Oleh karena itu, perlu validasi data calon penerima subsidi sekaligus pengawasan yang tepat dan berkelanjutan,” tegas Ketua MTI Jawa Tengah itu.(helmi)