Angkasa Pura 2

Pemanfaatan Rel Jalur Ganda Utara Jawa Belum Optimal

Dermaga EmplasemenSabtu, 22 Agustus 2015
double track

JAKARTA (beritatrans.com) – Mulai tahun 2014 telah beroperasi jalur ganda KA Jakarta-Surabaya sepanjang 727 km dengan target peningktan frekuensi dan kapasitas lintas sebesar 200%-300% (84 KA menjadi 200 KA). Ada pelurusan di 7 titik radius tikungan, sehinga dapat melaju 90 km/jam.

Keberadaan jalur ganda KA menjadikan peran KA sebagai angkutan yang bersifat backbone (trunk line & feeder) bagi pergerakan layanan logistik. “Sayang, infrastruktur KA jalur ganda ini kurang dimanfaatkan secara optimal,” kata Kepala Lab Transportasi Unika Soegijopranoto Semarang, kepada beritatrans.com di Jakarta, Sabtu (22/8/2015).

Sepanjang jalur ganda, lanjutnya, setidaknya ada kawasan besar industri, seperti pengembangan klaster industri bebasis migas di Cikegon. Kawasan Metropolitan Jabodetabek (MPA) salah satu konsentrasi kegiatan industri manufaktur terbesar di Asia, pengembangan klaster industri galangan kapal di Lamongan, pengembangan Kawasan Industri di Kendal, pengembangan klaster industri berbasis migas di Gresik dan Tuban, Kawasan Metropolitan Gerbangkertasusilo.

Dikatakan di pantura pernah ada akses jalan rel hingga dermaga pelabuhan, seperti di Pelabuhan Tanjung Priok, Pelabuhan Cirebon, Pelabuhan Tegal, Pelabuhan Pekalongan, Pelabuhan Tanjung Emas, Pelabuhan Juwana, Pelabuhan Tanjung Perak. “Ada kemungkinan membuat akses jalan rel ke Pelabuhan Tuban dan Pelabuhan Rembang,” jelas Djoko.

Dulu di zaman Belanda, papar dia, terhubung puluhan pabrik gula di sepanjang jalur rel, sehingga jalur rel kerap disebut jalur gula. Semua pabrik gula pasti terhubungkan dengan jalan rel yang berfungsi angkut komoditas gula baik untuk kebutuhan dlm negeri maupun ekspor hingga daratan Eropa melalui pelabuhan terdekat.

Pelabuhan Terhubung Rel

Akibatnya, semua pelabuhan pasti juga terhubungkan dengan rel. Perbandingan antara kapasitas yang tersedia dgn kapaditas terpakai terbesar di lintas Jakarta-Cikampek, yakni 43,83%.

Sementara di lintas Cikampek- Cirebon 35,34%, lintas Cirebon – Semarang 35,94%, dan lintas Semarang-Surabaya baru 30,75%.

Masih terdapat cukup banyak ruang untuk memperbesar porsi angkutan barang menggunakan KA. Sementara kebijakan PT KA dalam komposisi pendapatan 60% angkutan barang dan 40% angkutan penumpang.

PT KA telah memesan 1.200 unit gerbong datar angkutan petikemas berkapasitas 42 ton dari PT INKA, serta mendatangkan 100 unit lokomotif baru dari General Electric.

Angkutan barang antara jalan rel dan jalan raya bukan berkompetisi, tapi saling melengkapi agar terjadi efisiensi harga dan waktu.

“Mobil barang efektif angkut barang untuk jarak kurang 400 km. Sedangkan jika diangkut dengan KA, lebih efektif jarak lebih dari 400 km,” tegas Djoko.(helmi)