Angkasa Pura 2

Dirjen Udara Janji Benahi Sistem Keselamatan Penerbangan Enam Bulan

BandaraJumat, 28 Agustus 2015
Dirjen-Hubud-Suprasetyo

JAKARTA (beritatrans.com) – Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Suprasetyo berjanji menyelesaikan pembenahan sistem keselamatan dan navigasi penerbangan selama enam bulan ke depan. Janji ini terkait dengan kecelakaan pesawat Trigana Air di Pegunungan Bintang, Papua yang menewaskan seluruh penumpang dan awak pesawatnya beberapa waktu lalu.

Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Suprasetyo mengatakan, sudah mengimbau Lembaga Penyelenggara Pelayanana Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNI) untuk meningkatkan sistem navigasi demi keselamatan penerbangan. Terutama untuk penerbangan di daerah terpencil yang memiliki cuaca tak menentu seperti di Bandara Sentani dan Oksibil di Jayapura, Papua.

“Kami meminta kepada Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia untuk meningkatkan keselamatan navigasi, keselamatan dari Avis ke ADC,” kata Suprasetyo di Jakarta, Kamis (27/8/2015).

Peningkatan keselamatan navigasi dari Avis ke ADC tersebut, yaitu berupa pembangunan tower informasi di setiap bandara di seluruh Indonesia, termasuk bandara di wilayah terpencil yang memerlukan sistem navigasi yang prima.

Selain navigasi, informasi cuaca juga menjadi penentu keselamatan penerbangan. Karenanya, keberadaan BMKG menjadi penting untuk memberikan informasi cuaca sebagai acuan awak pesawat dalam mengambil tindakan sebelum lepas landas.

Sebelumnya, rawannya kecelakaan pesawat di Pegunungan Bintang, Papua ditengarai akibat belum terdapat stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Sehingga pesawat yang lepas landas tak mendapat informasi cuaca yang memadai.

Kemenhub pun sedang menggodok peraturan menteri yang berisi imbauan pembangunan segala infrastruktur udara dalam waktu maksimal enam bulan. Hal tersebut segera dilakukan agar insiden kecelakaan di dunia penerbangan Indonesia tak terulang kembali.

“Batas waktu enam bulan. Kalau membangun tower mungkin butuh waktu sampai satu tahun, Tapi diusahakan secepatnya. Selama enam bulan ini, paling tidak prosedurnya sudah siap,” ujar Suprasetyo seperti dikutip okezone.com.

Sebagian besar bandara di Papua saat ini masih menggunakan sistem penerbangan visualisasi manual. Sistem ini tidak memerlukan perangkat khusus karena pilot langsung melihat area penerbangan yang dilaluinya.

Oleh beberapa pihak, sistem terbang visual riskan kecelakaan, khususnya di wilayah dengan cuaca tak menentu dan daerah perbukitan seperti Pegunungan Bintang, Papua.

Suprasetyo menegaskan, pada prinsipnya penerbangan menggunakan sistem visualisasi manual dan dengan instrumen, sama-sama aman. Yang perlu diperhatikan oleh semua awak pesawat adalah disiplin dan tertib prosedur.

Suprasetyo kembali menegaskan kalau dalam waktu enam bulan ke depan, pemerintah akan fokus pada perbaikan infrastruktur udara. “Perbaikan infrastruktur sudah jadi agenda pemerintah. Kalau perlu diperpanjang runway-nya,” pungkasnya. (aliy)