Angkasa Pura 2

Pemerintah Terjebak Pada Kebijakan Sendiri Soal Harga BBM Subaidi

KoridorJumat, 28 Agustus 2015
IMG-20150827-WA002

JAKARTA (beritatrans.com) -Pemerintah terjebak dalam kebijakannya yang dulu menyerahkan harga jual BBM pada mekanisme pasar sesuai dengan Permen 39 yang mengevaluasi harga minyak setiap bulannya.

Kebijakan ini, tidak lebih muncul karena ketakutan pemerintah akan kenaikan harga minyak dunia yang tentu akan menaikkan harga jual BBM. Disisi lain subsidi untuk BBM dicabut pemerintah dan sekarang hanya menyisakan subsidi kecil untuk Solar dan LPG 3Kg.

Ditengah merosotnya harga minyak dunia saat ini, publik bertanya tanya kenapa harga jual BBM belum juga diturunkan oleh pemerintah mengikuti penurunan harga minyak dunia.

“Inilah ruang gelap yang tidak dibuka secara jujur oleh pemerintah kepada publik. Pada saat harga BBM RON 88 ditetapkan sebesar Rp7400/Ltr berdasarkan hitungan keekonomian oleh Pertamina adalah harga jual ini berada dibawah harga keekonomian sehingga pemerintah yang tidak lagi mensubsidi BBM memaksa Pertamina menjual rugi,” kata Direktur Energy Watch Indonesia Ferdinan Hutahaen di Jakarta, Jumat (28/8/2015).

Pada bulan juni 2015 terhitung Pertamina rugi hingga. Rp12 triliun. Padahal publik tahunya BBM sudah dijual nonsubsidi, untung dan harga dievaluasi setiap bulan mengikuti harga pasar.

“Ternyata kebijakan tersebut hanya menciptakan keresahan dipublik sementara Pertamina tidak diuntungkan. Artinya kebijakan ini harus segera dievaluasi ulang dan menetapkan metode baru yang lebih bersifat responsif, antisipatif dan futurustik,” urai Ferdinan.

Dia menambahkan, Pemerintah jangan lagi bekerja seperti pemadam kebakaran. “Kita harus bisa menciptakan stabilitas jauh kedepan dengan kebijakan2 yang baik, bebar dan tepat demi kondusifitas negara,” tegas Ferdinan.(helmi)