Angkasa Pura 2

Pakar: Otonomi Daerah Angkutan Umum Makin Parah

KoridorSelasa, 8 September 2015
bus di terminal

JAKARTA (beritatrans.com) – Transportasi sudah menjadi kebutuhan seluruh warga. Namun, sejak era otonomi daerah diberlakukan, kondisi transportasi kini kian menurun.

“Hal ini dibuktikan dengan tingkat penggunaan angkutan umum oleh warga sangatlah rendah. Load factor angkutan umum khususnya moda angkutan darat makin turun,” kata pakar transportasi Unika Soegijopranoto Semarang, Djoko Setijowarno, ST, MT kepada beritatarans.com di Jakarta, Selasa (8/9/2015).

Dalam kurun waktu 10 tahun lebh, lanjut dia, angkutan pedesaan di Jateng tinggal 25% yang beroperasi. Akibatnya anak sekolah di pedesaan harus berjibaku mengunakan angkuran umum yang terbatas.

“Yang lebih parah, hingga harus duduk di atap angkutapun dilakukan demi segera sampai sekolah tujuan. Kondisi ini yang perlu segera dibenahi,” kata Djoko.

Budaya berjalan kaki dan bersepeda sudah mulai pudar. Kondisi infarstuktur juga minim dan tidak nyaman.

“Mau berjalan kaki tidak tersedia trotoar yang nyaman dan terlindungi dari terik panas matahari. Demikian pula akan bersepeda, sudah tak diberi jalur khusus sepeda,” jelas Ketua MTI Jateng itu lagi.

Selain hak-hak pejalan kaki tidak dipenuhi oleh pemerintah daerah, juga semakin bebasnya penggunaan kendaraan pribadi.

“Disamping itu, pemerintah juga tak memperhatikan kondisi transportasi umum,” kilah Djoko.

Dikatakan negara tropis, namun Singapura dan Malaysia yang lebih panas, banyak sekali orang mau berjalan kaki.

“Selain itu, bersepeda oleh generasi sekarang hanya sebagai lifestyle, bukan kebutuhan. Kita tunggu kepala daerah yang baik dan peduli angkutan umum,” tegas Djoko.(helmi)

← Artikel Sebelumnya
Artikel Berikutnya →