Angkasa Pura 2

Perahu Ditabrak Kapal, 4 Nelayan 3 Hari Terombang – Ambing Di Lautan

Dermaga Kelautan & PerikananRabu, 9 September 2015
tmp_755-kapal-tenggelam2035008120

SUMENEP (beritatrans.com) – Nasib tragis dialami empat nelayan Desa Bancamara, Pulau Giliyang, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Berniat mencari ikan, perahu yang dipakainya tenggelam setelah ditabrak kapal. Keempat nelayan pun terombang-ambing di lautan selama tiga hari.

“Pada Sabtu malam sekitar pukul 23.00 WIB, perahu yang dinaiki empat nelayan tersebut ditabrak kapal yang melintas di sekitar Perairan Raas. Setelah ditabrak kapal tersebut, perahu milik nelayan asal Bancamara itu pecah dan selanjutnya tenggelam,” kata Kepala Desa Banraas, Pulau Giliyang, Fathor di Sumenep, Rabu (9/9).

Beruntung keempat nelayan ikan ini selamat setelah ditolong awak kapal asing.

“Pada Rabu dini hari sekitar pukul 03.00 WIB, empat nelayan tersebut sudah berada di rumahnya. Empat nelayan itu berada di tengah laut sekitar tiga hari,” lanjutnya.

Pulau Giliyang masuk wilayah Kecamatan Dungkek yang terdiri atas dua desa, yakni Desa Bancamara dan Banraas.

Fathor ikut menjemput empat nelayan setelah tiba di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep, Rabu dini hari pukul 00.30 WIB.

“Informasi yang kami terima dari personel Basarnas Surabaya bahwa awak kapal asing yang menolong empat nelayan itu melakukan komunikasi dengan Basarnas di Jakarta, dan selanjutnya personel Basarnas Surabaya yang mengevakuasi empat nelayan tersebut di Perairan Raas pada Selasa (8/9) sore,” ujarnya.

Keempat nelayan asal Bancamara itu awalnya berangkat dari Pulau Giliyang pada Sabtu (5/9) sore, dan rencananya ke Perairan Raas untuk menangkap ikan.

Ketika perahunya tenggelam, empat nelayan tersebut berhasil meraih boks (tempat penyimpanan) ikan, dan dimanfaatkan sebagai pelampung.

“Selama tiga hari, mereka terus memegang boks ikan tersebut dan terseret arus hingga di perairan yang diperkirakan di sebelah utara Kecamatan Batu Putih. Di perairan tersebut, empat nelayan itu ditolong awak kapal asing pada Selasa (8/9) siang,” ujarnya.

Selama terkatung-katung di tengah laut, kata dia, empat nelayan tersebut mengonsumsi mi instan mentah dan bubuk kopi untuk bertahan hidup.

“Setelah berhasil meraih boks ikan yang dimanfaatkan sebagai pelampung, mereka ternyata juga bisa meraih satu kardus mi instan dan bubuk kopi yang merupakan bekal mereka selama akan mencari ikan di Perairan Raas. Itu cerita mereka kepada kami setelah tiba di Kantor BPBD Sumenep,” tuturnya, seperti diberitakan Antara.

Fathor menjelaskan, personel Basarnas Surabaya mengevakuasi empat nelayan itu dengan menggunakan helikopter pada Selasa (8/9) sore, dari atas kapal asing tersebut di Perairan Raas.

“Setelah menolong empat nelayan tersebut, kapal tersebut melanjutkan perjalanan sambil berkomunikasi dengan Basarnas, dan selanjutnya personel Basarnas Surabaya mengevakuasi empat nelayan itu ketika posisi kapal asing tersebut berada di sekitar Perairan Raas,” ujarnya.

Dia juga mengemukakan, sesuai informasi dari personel Basarnas Surabaya, kapal asing yang menolong empat nelayan itu adalah kapal asing dengan rute Vietnam-Australia.

“Setelah dievakuasi dengan helikopter di Perairan Raas, personel Basarnas langsung membawa empat nelayan tersebut ke Surabaya. Pada Selasa malam, personel Basarnas Surabaya mengantarkan mereka ke Kantor BPBD Sumenep dengan menggunakan mobil, dan selanjutnya dijemput oleh kami sebagai sesama warga Pulau Giliyang,” kata Fathor. (anky).