Angkasa Pura 2

Segera Turunkan Harga Solar Bersubsidi Untuk Bantu Angkutan Umum

KoridorKamis, 10 September 2015
SPBU Solar

JAKARTA (beritatrans.com) – Ditengah harga minyak mentah dunia yang masih rendah, desakan masyarakat kepada Pemerintah agar menurunkan harga BBM Premium RON 88 dan Solar Subsidi sangat besar.

Sesuai dengan Permen ESDM No 39/2014 harus dievaluasi harga terhadap BBM Premium RON 88 dan solar subsidi setiap satu bulan sekali atau di sesuaikan dengan keadaan tertentu maka awal bulan kemarin seharusnya ada perubahan harga.

“Ternyata Pemerintah bergeming untuk tidak melakukan penurunan harga dengan alasan bahwa untuk mengurangi kerugian Pertamina serta menurut perhitungan Pemerintah harga keekonomian untuk BBM Premium RON 88 masih di angka Rp7.700 per liter,” kata Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan di Jakarta, Kamis (10/9/2015).

Berdasarkan perhitungan Energy Watch, kata dia, dengan harga MOPS untuk Premium RON 88 rata-rata peroide Juli – Agustus 2015 68 USD per barrel dan kurs Rp13.700 per dollar plus dengan Alpha serta PPN 10% dan PBBKB 5% harga BBM Premium RON 88 masih di angka Rp7.800.

“Jadi masih bisa kita maklumi bahwa BBM Premium RON 88 harganya tidak turun,” seru Mamit.

Berdasarkan perhitungan kami, papar Mamit, untuk harga BBM Solar subsidi harusnya mengalami penurunan. Berdasarkan harga MOPS BBM Solar  periode Juli– gustus 2015 rata-rata 63 USD per Barrel dengan kurs beli adalah Rp13.700 per dollar plus Alpha, PPN 10% dan PBBKB 5% maka harga solar adalah Rp7.450 per liternya. Dengan subsidi sebesar Rp 1,000 per liter dari Pemerintah maka harga harga ke ekonomian untuk solar adalah Rp6.450 per liter.

Saat ini, menurut Mamit harga BBM Solar subsidi yang di jual di SPBU-SPBU adalah Rp6.900 per liternya. Seharusnya Pemerintah bisa menurunkan harga BBM Solar Subsidi sebesar Rp450 per liternya.

Solar merupakan merupakan bahan bakar untuk kendaraan transportasi massal. Penurunan harga solar akan sangat membantu usaha angkutan umum, sehingga bisa memacu pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat dengan turunnya biaya logistik.

“Energy Watch harapkan, pertengahan bulan September ini Pemerintah mau merevisi harga solar subsidi,” tegas Mamit.(helmi)