Angkasa Pura 2

Ferdinan: Rini Soemarno Harus Transparah Soal Utang Baru Ke China Senilai Rp107 Triliuan

Emplasemen KokpitSabtu, 26 September 2015
IMG-20150827-WA002

JAKARTA (beritatrans.com) – Mentri BUMN Rini Soemarno bergeming untuk tidak memberikan keterangan secara transparan kepada publik terkait syarat yang dimintakan Cina atas utang baru ke 3 Bank BUMN yang sudah di tanda tangani. Termasuk utang baru Garuda Indonesia dan proyek KA Cepat yang nilai totalnya mencapai Rp107 triliun.

Demikian disampaikan aktivis antikorupsi dan Direktur Energy Watch Ferdinan Hutahaen kepada beritatrana.com, Sabtu (26/9/2015).

Menurutnya, Rini Soemarno jangan seenaknya melakukan kebijakan luar negeri dan mengabaikan ketentuan dalam hal pinjaman luar negeri.

“Menteri BUMN dalam hal ini telah melanggar UU No. 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang undangan Pasal 7 ayat 1 yang menetapkan Hierarki Perundangan undangan kita pada urutan ke dua adalah TAP MPR setelah UUD, selanjutnya dalam penjelasan pasal 7 ayat 1 b berbunyi bahwa TAP MPR yang masih berlaku adalah seduai dengan TAP MPR No. I/2003 yang didalam TAP tersebut pasal 2 mencantumkan TAP MPR No. XVI/MPR/2003 tentang Politik Ekonomi yang mempersyaratkan bahwa pinjaman luar negeri harus melalui persetujuan DPR,” tandas Ferdinan.

Faktanya sekarang, lanjut dia, jangankan menjelaskan secara transparan tentang utang tersebut malah Rini menabrak UU. Ini berbahaya bagi posisi presiden. Andai DPR masih punya jiwa, maka presiden bisa diberhentikan karena pemerintah melanggar UU.

Presiden Jokowi, menurut Ferdinan harus segera menegor dan mengevaluasi Mentri BUMN, ini pelanggaran serius terhadap UU, Jokowi tidak boleh membiarkan Rini bertindak semaunya dinegara ini.

“Langkah Rini juga sgt kontroversial terhadap kereta api cepat Jakarta Bandung yang memilih Cina daripada Jepang, padahal bunga investasi cina pada proyek tersebut sebesar 2% sementara Jepang menawarkan bunga 0,1%. Ini tidak wajar dan aneh, bunga 2% itu sangat tinggi dan akan memberatkan negara, belum lagi masalah teknologi, tentu cina tidak lebih baik dari Jepang,” kilah Ferdinan.(helmi)

loading...