Angkasa Pura 2

Membangun Ekonomi Banten, Antara Aktifkan Jalur KA Atau Jalan Raya

Destinasi Emplasemen KoridorSelasa, 29 September 2015
Djoko smg

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Bayah, Baten selatan memang harus segera dibangun. Predikat sebagai “daerah miskin” dan tertinggal harus segera dientaskan. Tentunya dengan membangun di segala bidang, mengingat Bayah dan daerah Banten lainnya mempunyai potensi ekonomi yang menjanjikan.

“Banten selatan termasuk Bayah, bukan hanya hasil tambang emas seperti di Cikotok. Ada juga kandungan batubara, pasir besi sampai pengembangan objek wisata alam, sejarah dan budaya yang tak kalah menarik dibanding daerah lain seperti Solo, Yogyakarta, bahkan Bali atau Toraja,” kata Kepala Lab Transportasi Unika Soegijopranoto Semarang, Djoko Setijowarno, ST, MT saat dikonfirmasi beritatrans.com di Jakarta, Selasa (29/9/2015).

Menurutnya, Bayah bisa ditempuh dari Jakarta dengan kendaraan jalan darat sudah mulus dapat ditempuh antara 7-8 jam. “Sedang jalur rel KA dari Jakarta menuju Bayah sepanjang 225 km melewati Rangkas, Saketi, Malingping. Dengan moda KA, perjalanan sejauh ini dapat ditempuh kurang dari 4 jam,” jelas Djoko lagi.

Jika semua jalan dapat menuju Bayah dan daerah Banten selatan lannya sudah selesai dan dioperasikan, maka makin banyak pilihan untuk mencapai daerah Bayah. Apalagi, daear tersebut kini dibangun industri Semen Merah Putih.

IMG-20150922-WA001

“Semua itu tentunya akan mendorong pembangunan ekonomi dan kesejahteraan warga setempat. Distribusi barang dan jasa dari dan menuju Bayah serta Banten selatan lainya akan lebih besar lagi. Ini potensi usaha yang menjanjikan bagi pelaku usaha tentunya,” kilah Djoko yang juga Ketua MTI Jawa Tengah itu.

Djoko menambahkan, objek wisata Pantai Sewarna yang berjarak 8 km dari Bayah bisa menjadi daya tarik pelancong. Bayah dapat dijadikan tujuan wisata yang sebenarnya tidak jauh dari Jakarta jika sudah tersedia jalur KA.

“Sepanjang Malingping hingga Bayah, tambah Djoko, para wisatawan dapat melihat hamparan pantai inndah yag membentang di Samudra Hindia,” urai Djoko.

KRL

Ditempuh 4 Jam Dengan KA

Khusus moda angkutan kereta api (KA) jika sudah aktif beroperasi, dengan beberapa stasiun yang berada di desa-desa sepanjang jalan menuju Bayah, dipastikan juga akan bangkit ekonominya.

“Komoditas yang akan dapat diangkut dari Bayah menuju Jakarta atau sebaliknya, antara lain semen, karet, kepala sawit dan batubara. Selain juga hasil pertanian dan kebutuhan pokok atau sembako warga lokal akan ikut berkembang pula,” sebut Djoko.

Untuk mendorong dan memicu pembangunan ekonomi Bayah, menurut Djoko, maka pembangunan jalur transportasi menuju Bayah dan daerah lainnya di Banten perlu dipercepat. “Jalan darat sudah mulai dibangun Pemprov Banten dan dan jaur KA peninggalan zaman Jepang juga akan segera diaktifkan. Semua itu harus didukung dan dioptimalkan, termasuk dukungan seluruh masyarakat Banten,” tandas Djoko.

Pilihan membangun jalan rel untuk memberi alternatif selain jalan raya dan menambah kapasitas ruang bermobilisasi ke Banten selatan yang selama ini tertinggal pembangunannya.

Menurut Djoko, Pemkab Lebak dan Pemprov Banten dapat meminta Pemerintah Pusat untuk menyegerakan pengaktifan jalur KA Rangkas-Saketi-Bayah.

Perekonomian Banten selatan akan sangat terbantu sekali dengan adanya jalur KA ini nantinya. Waktu tempuh lebih cepat dengan KA dibandingkan jalan raya dapat dijadikan pertimbangan dan solusi alternatif bagi pemerintah.

“Pada masa pendudukan Jepang dapat membangun jalur KA ini kurang dari dua tahun dengan kerja paksa atau romusha bisa selesai. Tentunya sekarang denganperalatan lebih modern, bisa lebih cepat dari itu,” tandas Djoko.

Dari temuan di lapangan, tambah Djoko, lahan tubuh batalan KA (railbed) masih tersedia. Belum banyak yang terokupansi tempat tinggal penduduk sekitar. Ini momentum yang baik jika mau membangun atau mengaktifkan kembali jalur KA ke Banten selatan,” tegas dosen FT Unika Soegijoprnoto itu.(helmi)