Angkasa Pura 2

BP3 Palembang Tingkatkan Kualitas dan Fasilitas Pendidikan Untuk Personel Penerbangan

Bandara SDMJumat, 2 Oktober 2015
IMG_20150827_154633

PALEMBANG (BeritaTrans.com) – Balai Pendidikan Dan Pelatihan Penerbangan (BP3) Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) terus mengembangkan fasilitas pendidikan serta kualitas lulusan diklat khususnya dari personel penerbangan di Tanah Air. BP3 merupakan salah satu lembaga pendidikan personel penerbangan di bawah Badan Pengembangan SDM Perhubungan di Tanah Air.

“Menjelang era pasar bebas ASEAN (MEA) seluruh personel penerbangan mulai pilot, teknisi, operator bandara dan lainnya harus profesional juga. Selain itu, mereka juga didukung dengan sertifikasi yang jelas dari institusi yang berwenang dan diakui,” kata Kabag TU BP3 Palembang Asep Kosasih Samapta ST,MT saat dihubungi beritatrans.com di Palembang, kemarin.

Menurutnya, BP3 terus menambah fasilitas dan peralatan diklat yang dibutuhkan, terutama terkait dengan operasional penerbangan. “Saat ini, selain bengkel dan ruang belajar mengajar yang representatif, juga terus menambah alat peraga dan alat praktikum yang baik dan up to date,” kata Asep lagi.

Saat ini, selain satu moke up pesawat terbang dari jenis Boeing 737-200, kini tengah membangun replikasi pesawat yang baru lagi. Selain itu, juga tersedia lab pemadam kebakaran, lengkap dengan smulator mobil pemadam kebakaran, mobil latih termasuk truk dan ambulan untuk latihan para siswa BP3 Palembang.

“Selama ini, BP3 Palembang menerima siswa dari SDM pengelola bandara baik dibawah PT Angkasa Pura (AP) I dan AP II serta bandara Unit Pelaksana Teknis (UPT) di awah Kementerian Perhubungan. “Oleh karena itu, siswa BP3 Palembang datang dari seluruh Tanah Air, mulai Aceh sampai Merauke di Papua,” jelas asep yang juga alumni STPI Curug itu.

Asep menambahkan, menjelang pemberlakukan MEA maka seluruh personel penerbangan terutama di operator bandara harus ditingkatkan kulitas dan kuantitasnya. “Fakta yang kami temui bahkan menjadi siswa di BP3 Palembang, ada siswa yang belum bisa mengemudikan mobil seperti minibus, truk atau ambulan,” urai Asep saat menunjukkan ruang kelas dan lab di lingkungan BP3 Palembang itu.

Dalam standard operation prosedure (SOP) bandara yang baku di dunia, menurut Asep, minimal harus mempunyai tiga kendaraan operasional. Kendaraan untuk karyawan atau paling tidak untuk pimpinan, mobil pemadam kebakaran dan ambulan. “Akan sangat aneh jika satu bandara tak punya mobil operasional termasuk ambulan dan pemadam kebakaran. Dan lebih aneh lagi jika SDM di dalamya tak bisa mengoperasikan kendaraan tersebut,” terang Asep.

Oleh karena itu, tambah Asep, seluruh siswa BP3 Palembang untuk mendapatkan sertifikat maka harus lulus ujian mengoperasikan kendaraan, baik truk, minibus atau ambulan. “Selain itu juga harus menguasai kemampuan teknis sesuai bidang tugas dan tanggung jawab masing-masing,” tegas putra asli Bandung tersebut.(helmi).