Angkasa Pura 2

Airnav Tingkatkan Profesionalisme Pelayanan Navigasi Penerbangan

Bandara KokpitMinggu, 4 Oktober 2015
Airnav ajee

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Perusahaan Umum (Perum) Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau Perum Air Navigation Indonesia (Airnav) mengembangkan management pengelolaan lalu lintas penerbangan di Tanah Air. Pertumbuhan penumpang serta pesawat udara tak boleh dihentikan karena itu menjadi bagian tak terpisahkan dari pembangunan ekonomi dan kesejahteraan Indonesia.

“Sejalan dengan pertumbuhan jumlah pesawat terbang yang beroperasi di Indonesia, pengelolaan dan pelayanan navigasi penerbangan harus meningkat pula. Pelayanan navigasi udara harus optimal dan memenuhi aturan keselamatan sekaligus mendukung pengembangan industri penerbangan di Tanah Air yang selamat, aman dan nyaman,” kata Manager Air Traffic Flow Management (ATFM) Perum Airnav, Rosedi, S.SiT, MA saat dihubungi beritatrans.com di Jakarta, Minggu (4/10/2015).

Menurut ATC senior ini, industri penerbangan Indonesia tumbuh sangat cepat bahkan melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. “Tapi kita tak bisa menghentikan semua itu, karena ini trerkait erat dengan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Ekonomi makin maju, implikasinya permintaan jasa angkutan penerbangan tumbuh positif,” jelas Rosedi.

Berdasarkan catatan yang dimiliki Kementerian Perhubungan, saat ini ada sekitar 1.025 pesawat hingga helikopter beroperasi di Indonesia. Jumlah itu akan terus bertambah, seiring meningkatnya jumlah penumpang angkutan udara. Jumlah penumpang udara nasional

Dampak ikutannya, kata Rosedi, pertumbuhan pesawat terbang yang beroperasi di Indonesia lalu lintas penerbangan juga makin padat. Jika tidak dikelola dengan baik, bisa memicu terjadinya kecelakaan sampai menelan korban jiwa. “Kejadian itulah yang tak diinginkan bahkan dibentuklah Perum Airnav ini,” aku dia.

Kini, lalu lintas penerbangan di tujuh bandara utama di Indonesis sudah melebihi kapasitas yang ada. Bandara tersebut antara lain, Soekarnp-Hatta, Juanda, Ahmad Yani, Adi Sutjipto, Ngurah Rai, Hassanudin dan Sepinggan. “Implikasinya, delay atau keterlambatan penerbangan tak bisa dihinrai dengan rentang waktu makin panjang,” jelas dia.

“Menyikapi kondisi tersebut, Perum Airnav terus mengembangkan manajemen air traffic flow management tersebut. Bagaimanapun, profesionalisme dan pelayanan lalu lintas penerbangan di Indonesia harus lebih baik dan jangan sampai mengorbankan keselamatan penerbangan yang ada. Inilah target utama yang akan dilakukan Perum Airnav ke depan,” jelas Rosedi yang juga alumni STPI Curug itu.

Perum Airnav dibawah pimpinan Bambang Tjahjono itu terus berkomunikasi dan bersinergi dengan operator bandara dan maskapai untuk meningkatkan pelayanan navigasi penerbangan serta mewujudkan keselamatan penerbangan di Tanah Air.

“Betapapun sibuknya lalu lintas penerbangan dan arus penumpang udara di Tanah Air, keselamatan penerbangan tak boleh diabaikan. Keselamatan penerbangan harus nomor satu,” tandas Rosedi.

“Sesuai UU Penerbangan serta target untuk meningkatkan keanggotaan Indonesia di ICAO, keselamatan penerbangan mutlak harus ditingkatkan. Tapi Airnav tak bisa sendiri dan harus bersinergi dengan pemangku kepentingan yang lain, terutama operator bandara dan maskapai penerbangan nasional. Kita harus bersinergi dan maju bersama untuk mewujudkan penerbangan yang selamat, aman dan nyaman tersebut,” tegas Rosedi.(helmi/berbagai sumber)

loading...
Terbaru
Terpopuler
Terkomentari