Angkasa Pura 2

Tingkatkan Efisiensi Penerbangan, Perum Airnav Indonesia Inisiasi Kembangkan ATFM

Bandara Kokpit SDMSelasa, 6 Oktober 2015
Airnav Rosedi

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Perum Lembaga Penyelenggara dan Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau dikenal dengan Perum Air Navigation Indoensia (Airnav) tengah mengembangan Air Traffic Flow Management (ATFM).

“BUMN itu menggandeng para pemangku kepentingan baik maskapai penerbangan, operator bandara dan pemangku kepentingan lain di bandara lainnya untuk membangun sistem dan pelayanan jasa penerbangan yang baik, efisien serta tingkat pelayanan terbaik kepada pengguna jasanya,” kata Manager ATFM Perum Airnav Rosedi,S.SiT, MA saat dihubungi beritatrans.com di Jakarta, Selasa (6/10/2015).

Menurutnya, Air Traffic Flow Management (ATFM) adalah sebuah cara atau metoda yang digunakan untuk menyeimbangkan antara kapasitas (capacity) dan permintaan (demand) di ruang udara (airspace) maupun di bandara (airport), sehingga pengaturan lalu lintas udara bisa efisien dan efektif.

“Namun, ATFM tidak bisa dilaksanakan sendiri tapi harus dilakukan secara bersama dengan kesadaran tinggi oleh semua pemangku kepentingan (stakeholder). Selanjutnya, mereka juga komitmen membangun kualitas SDM dan budaya kerja yang baik, disiplin dan berbasis pelayanan yang terbaik,” kata Rosedi lagi.

Pengembangan sistem ATFM, menurut Roesdi semakin mendesak dilakukan mengingat makin tingginya populasi pesawat terbang yang beroperasi di Indonesia. Sementara, ruang udara di Tanah Air jauh tertinggal atau semakin kurang memadahi lagi.

“Jika tidak dikelola dengan managemen yang baik, modern serta profesional dengan melibatkan semua pihak terkait, akan sulit diwujudkan. Sebaliknya, jika semua pihak bisa bersinergi dan mewujudkan ATFM yang baik di seluruh ruang udara dan bandara di Tanah Air akan sangat baik,” tandas alumnus ATC STPI Curug itu lagi.

Supply Demand Tidak Seimbang

Menurut data International Civil Aviation Organization (ICAO), pertumbuhan air traffic domestik mencapai 5,8% per tahun, antara 2000-2009 silam. Sedang pertumbuhan air traffic international mencapai 4,9% per tahum. Sementara, pertumbuhan overfly atau pesawat yang melintas rata-rata tumbuh 4,5% per tahun.

Indonesia, masih menurut ICAO, termasuk salah satu negara yang mempunyai pertumbuhan industri penerbangan cukup tinggi. “Jika tak dikelola secara baik dan profesional, bisa berbahaya dan mengancam keselamatan penerbangan,” Rosedi.

Selain itu, tambah, penerbangan di Indonesia menjadi tidak efisien. Makin banyak delay dan implikasinya konsumsi feul makin tinggi. Ini satu pemborosan bagi maskapai penerbangan kita. “Setiap ada keterlamabatan pesawat satu menit saat houlding atau antre di landasan, ada tambahan biaya sampai US103,” terang Rosedi.

“Jumlah itu hanya untuk mengganti bahan bakar avtur yang terbuang percuma. Bisa dihitung, berapa lama rata-rata satu pesawat harus antre atau holding di udara. Akumulasinya, dalam setahun akan sangat besar nilainya,” tegas Rosedi.(helmi)

Terbaru
Terpopuler
Terkomentari