Angkasa Pura 2

Dengan ATFM, Singapura Airlines Bisa Hemat US$ 70 Juta Setahun

Bandara KokpitRabu, 7 Oktober 2015
Airnav Rosedi

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Penerapan Air Traffsic Flow Management (ATFM) di dunia penerbangan modern memberikan dampak positif dan menguntungkan semua pihak. Mereka bisa mengoperasikan penerbangan yang selamat, efisien, tepat waktu, dan juga memberikan dampak ekonomi yang cukup signifikan.

“Dengan menerapkan ATFM, keuntungkan paling besar akan didapat maskapai penerbangan. Mereka bisa mengoperasikan pesawat terbang dengan sangat efektif, mengangkut penumpang dan kargo lebih banyak. Demikian juga operator bandara, karena semua pesawat dipastikan bisa take off landing cepat dan tepat waktu dan kapasitas bandara jauh meningkat,” kata Manager ATFM Perum Air Navagation Indonesia (Airnav) Rosedi, S.SiT, MA saat dihubungi beritatrans.com di Jakarta, Rabu (7/10/2015).

Seluruh pemangku kepentingan sektor penerbangan juga bisa memperoleh manfaat ganda dengan sistem ATFM ini. Mereka bisa beroperasi dengan lebih baik, melakukan perencanaan dengan tepat dan akurat. “Intinya, tingkat, utility pesawat dan bandara di Indonesia benar-benar selamat, aman dan efektif,” kata Rosedi.

Dikatakan, pengalaman maskapai Singapura Airlines dengan menerapkan ATFM khususnya untuk rute Bandara Changi Singapura ke Swarnabhumi, Bangkok Thailand bisa menghemat sampai US$70 juta per tahun. “Jumlah yang sangat sigifikan dan layak ditiru oleh maskapai lain di dunia ini,” jelas Rosedi lagi.

Sementara, kondisi penerbangan Indonesia saat ini masih jauh dari harapan. Antara suppaly dan demand tidak seimbang dan belum bisa dikelola dengan baik. “Beberapa bandara sangat sibuk, sehingga memicu delay berkepanjangan sehingga merugikan semua pihak. Boros bahan bakar minyak (BBM), dan penumpang atau kargo terlambat sampai tujuan,” papar Rosedi.

Delay dan Boros BBM

Dunia penerbangan Indonesia saat ini tumbuh sangat tinggi. Tapi, pelayanan kepada penumpang masih harus ditingkatkan. Data YLKI menyebutkan, sektor penerbangan masih menduduki urutan 10 besar dari banyaknya masalah yang diadukan masyarakat.

“Masalah pokok yang paling banyak diadukan antara lain delay serta fasilitas lain di bandara yang belum semua baik. Harga tiket yang fluktuatif dan cenderung merugikan konsumen. Selain itu, kemacetan jalan dari dan menuju bandara juga banyak dikeluhkan konsumen,” kata Ketua YLKI Tulus Abadi kepada beritatrans.com.

Menurut Rosedi, tingkat delay maskapai nasional tergolong tinggi. Hampir semua bandara besar seperti Bandara Soekarno-Hatta, Juanda Surabaya, Ngurah Rai Bali, Adi Sutjipto Yogyakarta sangat padat dan memicu terjadinya delay. “Setiap pesawat rata-rata harus antre di landasan atau houlding sebelum pesawat landing sampai satu jam. Semua itu menjadi penyebab pemborosan biaya bagi maskapai,” terang Rosedi.

Dari pembicaraan dengan beberapa maskapai nasional, menurut Rosedi, rata-rata pesawat delay sekitar satu jam hanya untuk penerbangan Jakarta-Yogyakarta. Kondisi serupa juga terjadi untuk rute domestik lainnya, terutama beberapa bandara padat di Tanah Air.

Akibat delay tersebut, lanjutnya, mereka mengaku harus menyediakan stok avtur lebih banyak. Bukan hanya untuk persiapan ke bandara tujuan, tetapi juga stok delay dan houlding selama satu jam dan persiapan ke bandara alternatif jika ada kondisi buruk dan tak bisa mendarat di bandara tujuan.

“Hasil perhitungan salah satu maskapai nasional, kerugian akibat harus menyiapkan avtur lebih tersebut, mencapai Rp600 miliar setahun. Jika diakumulasikan dalam setahun untuk seluruh pesawat yang beroperasi di Indonesia akan sangat besar. Uang triliunan rupiah melayang hanya untuk persiapan avtur saat delay atau antre di landasan. Kondisi itu berbanding terbalik dengan maskapai Singapura Airlines,” terang Rosedi.

Semua kondisi buruk serta delay yang tak seharusnya terjadi tersebut, tambah Rosedi, harus segera dibenahi. Frekuensi delay serta rentang waktu delay atau antre di landasan harus ditekan bahkan dihilangkan.

“Itulah perlunya kita menerakan ATFM. Perlu sinergi semua pihak baik maskapai, operator bandara, Airnav serta pemangku kepentingan yang lain. Semua harus beroperasi dengan satu sistem dan standar yang sama,” tegas Rosedi.(helmi)

loading...