Angkasa Pura 2

Anto: Kereta Itu Obyek Foto Yang Menarik. Mau Difoto Dari Sudut Manapun Pasti Menarik

Emplasemen FigurSabtu, 10 Oktober 2015
Stasiun Bedono di Kec Jambu Kabupaten Semarang

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Kereta Api akhir – akhir ini menjadi moda transportasi yang paling digemari masyarakat. Selain Aman, murah dan cepat. Di Tidak hanya itu, sudut pandang kereta api bukan saja memiliki nilai sejarah saja tapi juga memiliki nilai-nilai estetika dalam bentuk fisik sebuah kereta dan stasiun sebagai sebuah bangunan saja.

Hal ini kereta menjadi sebuah obyek foto yang menarik bagi pecinta kereta api sebab foto adalah medium yang bisa dinikmati dari keindahan perpaduan antara alam dan kereta, sejarah, ilmu pengetahuan dan wisata.

Salah satunya pecinta kereta api, yang terus berburu foto-foto kereta, baik kereta api sebagai obyeknya, stasiun dan panorama alamnya. Anto Dwiantoro Slamet biasa dipanggil Anto ini mengaku sebagai pecinta kereta api (Rail Fan). Dia bertutur kepada BeritaTran.com, Sabtu (10/10/2015)

Anto di Stasiun Bedono

Sejak kecil pendiri LI9HT Brand ini menyukai kereta. “Kalau ke kampung halaman Ayah Saya di Purwokerto, Jawa tengah, hampir selalu naik KA. Tahun 1970an awal dulu masih pakai loko uap dan gerbongnya kayu, ” kata Anto

Menurutnya, Pemandangan alam yg dilalui Kereta Api dari Jakarta ke Purwokerto sangat indah. “Saya jadi suka kereta api, ” kenangnya

Ada kenangan lain yang makin Dia kepincut sama kereta api ketika Dia ke Belanda. “Sewaktu ke Belanda thn 1974, saya masih umur 6 tahun, dibelikan kereta api miniatur yg detil, ” ujar Anto

Anto mengungkapkan, Saya suka penasaran bagaimana, bekerjanya kereta, rel dan wesel. “Masih seusia itu saya sudah pelajari walaupun belum punya referensi,” imbuhnya.

Koleksi Foto-foto Kereta.

Stasiun Bedono di Kec Jambu Kabupaten Semarang

Sebagai penghobi, tentu banyak koleksi-koleksi dari hobbynya. Begitu juga bagi Anto. Koleksinya berupa foto-foto kereta api. “Koleksi foto stasiun Kereta Api. Saya dulu koleksi kereta miniatur, tapi susah merawatnya dan hilang satu per satu, akhirnya saya koleksi foto stasiun aja,” tegasnya.

Ketertarikan inilah bagi Anto terus berburu foto-foto tentang kereta api. “Kadang saya foto lokomotifnya. Tapi bagi saya tidak ada yg lebih menarik daripada foto stasiun dan dipo serta rumah sinyal,” kata Sarjana Sastra UI jurusan Sejarah.

Pokoknya, lanjutnya, bangunan-bangunan penunjang stasiun Kereta Api. “Saya foto dengan ponsel saya dan saya edit di Photoshop. Tiap kali ada kesempatan Kereta Api yang saya tumpangi berhenti di stasiun, yang bisa saja terjadi untuk singgah maupun persilangan, saya foto dari berbagai sudut,” jelasnya

Rumah Sinyal A Stasiun Purwokerto

Dia mengaku paling suka memotret areal Stasiun Purwokerto karena punya ikatan emosional dengannya sejak masih kecil dan Stasiun & Sub Dipo Pasar Turi karenadia pernah ngontrak rumah yang lokasinya berdekatan dengan Stasiun Pasar Turi.

Saya juga suka tukeran foto dengan sesama railfans bila dia punya foto stasiun yg saya belum punya. Dan tidak heran jumlah koleksi fotonya sudah 600 foto “tapi kalau dilihat dari stasiunnya belum tercover semuanya. Itu baru di Jawa aja,” ujar pria kelahiran Jakarta.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Diantara fotonya ada stasiun yg masih aktif, ada yg nonaktif, bekas dan mati.

Menurutnya, jumlah railfans (pecinta kereta) saya tidak tahu tepatnya. Bisa ribuan atau ratusan ribu. Ada berbagai komunitas di Indonesia: IRPS (Indonesian Railway Preservation Society), GM-MARKA (Gerakan Muda Penggemar Kereta Api), Edan Sepur, Forum Semboyan35, KRD (Komunitas Railfans Daerah), dan lain-lain.

“Kalau Anda ketik “railfan” di Wikipedia akan tampil daftar orang terkenal di dunia yg penghobi kereta, termasuk beberapa presiden Amerika,” katanya.

Untuk mendapatkan sebuah foto tentu ada kesulitannya, menurutnya kesulitan yang signifikan sih tidak ada. “Sekarang aksesnya gampang. Cukup naik Kereta Api di rute tertentu yg lewat atau berhenti di stasiun-stasiun pasti saya punya peluang untuk motret stasiunnya,” tutur pria tertubuh gembul ini.

Anto menambahkan, biasanya naik KA kelas ekonomi, “odong-odong” yang sering berhenti untuk bisa memotret stasiun. “Kalau naik KA Eksekutif agak kesulitan karena jarang berhenti,” Kata Anto.

Sebagai pencinta kereta tentunya punya cara tersendiri dalam memburu foto kereta.

Menurutnya, Ia tidak punya punya tips & trick khusus dalam memotret kereta. Tapi lanjut Anto, seperti pernah saya bilang ke teman yang tanya kiat-kiatnya, “Kereta itu obyek foto yg menarik. Mau difoto dari sudut manapun pasti menarik.” paparnya.

Ada pengalaman lucu yang mempunyai hobbi membaca dan menulis ini. “Saya tadinya mau gabung dg komunitas IRPS (Indonesian Railway Preservation Society), tapi karena peraturannya banyak sekali dan berpotensi mengekang kebebasan saya memotret sarana perkeretaapian (harus rombongan dg anggota IRPS lainnya), maka saya memutuskan independen saja,” tuturnya

Tidak tahunya, katanya lebih lanjut, suatu hari saya dihubungi yunior saya di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UI yg bekerja di Unit Pelestari dan Desain Arsitektur PT KAI yg juga pengurus IRPS. Dia dan satu orang pengurus IRPS lainnya datang ke kantor saya, konsultasi tentang bagaimana branding IRPS. Dan saya pun diundang ke rapat2 IRPS yg sering diadakan di Dipo Lokomotif Jatinegara.

Padahal saya batal jadi anggota IRPS, “lha kok malah diundang ke rapat-rapat komunitas itu. Baru-baru ini saya juga ditawari oleh yunior saya itu untuk gabung dalam Tim Pengembangan Museum Kereta Api Ambarawa. Saya juga sering diundang utk ikut acara kehumasan PT KAI dan terakhir tanggal 28 September lalu bahkan saya dapat undangan untuk ikut upacara Hari KA Indonesia di Bandung, tapi saya berhalangan hadir,” katanya.