Angkasa Pura 2

Kasus Perusakan di NTT,

Polri Harus Bisa Hentikan Arogansi Anggota Di Lapangan

Aksi PolisiSabtu, 10 Oktober 2015
neta s pane

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Mabes Polri harus mampu menekan angka kejahatan polisi menyerang kantor polisi. Jika tidak, aksi polisi menyerang dan merusak kantor polisi, akan bisa mengganggu situasi kamtibmas menjelang Pilkada serentak Desember 2015 mendatang.

“Peristiwa penyerangan dan perusakan kantor polisi yang dilakukan Brimob di Jalan Veteran, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 7 Oktober 2015 lalu. Ironis dan sangat memalukan,” kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S.Pane di Jakarta, Sabtu (10/10/2015).

IPW, lanjut di, mencatat penyerangan dan perusakan terhadap kantor polisi atau fasilitas kepolisian lainnya terus menerus terjadi dan sepertinya sulit dihindari. Aksi penyerangan itu justru dilakukan oleh aparat kepolisian sendiri.

“Kasus penyerangan terhadap kantor polisi di NTT ini adalah kasus ke 11 di tahun 2015 ini. Sepanjang tahun 2015 ada dua peristiwa penyerangan kantor polisi yang dilakukan oleh Brimob,” kata Neta.

Menurut dia, sebelumnya pada 28 Mei 2015 aparat Brimob juga menyerang kantor Mapolres Bima Kota, NTB. Saat itu puluhan anggota Brimob marah akibat dirazia polisi lalu lintas.

Ironis memang, sebut Neta, sesama polisi tidak bisa menahan diri hingga melakukan penyerangan. Peristiwa penyerangan yang dilakukan Brimob terhadap kantor polisi di NTT lebih parah lagi.

Polisi Mabuk Miras

Penyebabnya ada dua. Pertama, anggota Brimob mabuk-mabukan dengan minuman keras (miras). Kedua, polisi yang melakukan razia terhadap Brimob itu bersikap arogan, yakni memecahkan botol-botol miras di depan anggota Brimob yang notabene adalah kawan satu korpsnya.

Sikap arogan polisi itu semakin menunjukkan bahwa sikap sebagian anggota polisi semakin parah dan tidak terkendali. “Sesama anggota polisi, mereka masih mengedepankan sikap arogan dan sok kuasa. Bagaimana lagi dengan masyarakat biasa yang harus diayomi dan dilindunginya,” tanya Neta.

Dia menambahkan, sikap arogan itu kemudian dibalas dengan sikap yang lebih arogan lagi dari anggota Brimob, yang melakukan penyerbuan dan perusakan kantor polisi sungguh tak pantas dilakukan oleh aparatur negara.

“Jika dalam melakukan tugasnya aparat kepolisian selalu mengedepankan arogansi. Oleh karenanya, pantas saja jika kantor polisi makin sering diserang, dirusak dan dibakar massa, baik oleh masyarakat maupun oleh sesama anggota polisi,” tegas Neta.(helmi)

loading...