Angkasa Pura 2

Perwira Lulusan STIP Greta Lengkong: Saya Ingin Jadi Nakhoda Kapal Tanker

Figur SDMMinggu, 25 Oktober 2015
Greta Lengkong

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Berlayar di kapal-kapal tanker atau kapal supply ke kegiatan pengeboran minyak dan gas (migas) lepas pantai menjadi salah satu favorit para perwira dan taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta.

Greta Lengkong, salah satu perwira pelayaran niaga STIP Jakarta yang baru dilantik Kepala BPSDM Perhubungan, Wahju Satrio Utomo, SH, M.Si menyampaikan semua itu. “Saya ingin bergabung ke Pertamina dan berlayar di kapal tanker,” kata Greta dalam perbincangan dengan BeritaTrans.com di Jakarta, kemarin.

Selain menjanjikan kesejahteraan dan pengalaman kerja di kapal tanker juga berbeda. “Kita bisa berlayar bukan hanya di Indonesia, tapi juga dunia. Selama ini, kebutuhan minyak di dunia masih tinggi. Selama itu pula, kebutuhan akan pelaut professional di kapal-kapal tanker juga tinggi,” cetus Greta.

Selain itu, aku Greta, dia berasal dari keluarga pelaut terutama di kapal-kapal tanker. “Ayah saya berlayar di kapal tanker. Tak aneh jika saya ingin berlayar dan menjadi nakhoda di kapal tanker,” kilah dia.

Kabag Praktek Kerja Lapangan STIP Jakarta Capt. Zainal Arifin mengatakan, selama harga minyak dunia tinggi maka kebutuhan akan kapal-kapal tanker pasti tinggi. “Implikasinya, gaji dan kesejahteraan para pelaut di kapal tanker juga lebih,” kata Zainal kepada BeritaTrans.com.

Saat ini, lanjut harga minyak dunia sedang turun. Tapi keinginan pelaut untuk berlayar di kapal tanker dan kapal supply ke industry pengeboran migas lepas pantai masih tinggi. “Semua itu menggambarkan kalau kapal tanker memang berbeda,” tukas Zainal.

Dia menambahkan, untuk nakhoda kapal tanker, di Singapura dibayar minimal 5.000 dolar AS per bulan. Sedang di Timur Tengah, nakhoda kapal tanker bisa sampai 7.500 dolar AS per bulan.

“Grade kapal tanker itu lebih tinggi dibandingkan lainnya. Jika lolos kerja di kapal tanker, maka kapal lainnya akan lebih mudah karena syarat dan ketentuannya lebih rendah lagi,” kilah Zainal.

“Selama aktivitas pengeboran migas lepas pantai tinggi, maka kesejahteraan pelaut di kapal tersebut juga naik. Selain itu, mereka berlayar tidak terlalu lama dan banyak singgah bahkan lego jangkar. Jadi, kerja mereka tidak terlalu membosankan juga,” tandas Zainal.

“Selama aktivitas pengeboran migas lepas pantai tinggi, kesejahteraan pelaut di kapal tersebut juga naik. Selain itu, mereka berlayar tidak terlalu lama dan banyak singgah bahkan lego jangkar. Jadi, kerja mereka tidak terlalu membosankan juga,” tegas dosen senior STIP Jakarta itu.(helmi)