Angkasa Pura 2

PT Pelindo II Jadikan Pelabuhan Townsville Sebagai Sister Port

DermagaKamis, 12 November 2015
Pelabuhan Townsville

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Manajemen PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II menggandeng Pelabuhan Townsville, Australia. Kerja sama ini untuk meningkatkan pelayaran langsung dari Indonesia ke Australia, sekaligus diharapkan mempercepat dan menekan biaya logistik komoditas penting diantara kedua negara.

Kerjasama tersebut menjadikan Pelabuhan Townsville sebagai sister port. Kerjasama akan diteken oleh Direktur Utama Pelindo II RJ Lino dan CEO Pelabuhan Townsville Renita Garrad, Jumat (13/1/2015), di hadapan perwakilan pemerintah kedua negara serta delegasi perwakilan perusahaan di Exhibition Hall, National Conventional Centre Canberra, Australia.

Dirut Pelindo II RJ Lino menuturkan dengan kerjasama ini diharapkan bisa menjadi langkah awal menjalin hubungan antara Pelindo II dengan Pelabuhan Townsville.

Dengan demikian dapat lebih intensif mendukung program pemerintah Indonesia saat ini yang fokus pada peningkatan kualitas sektor maritim serta mengurangi biaya logistik.

“Dengan mengoptimalkan pelabuhan-pelabuhan di Indonesia sebagai penghubung jalur transportasi yang lebih efisien diharapkan tak hanya menghubungkan satu pulau ke pulau lain tetapi juga antar negara,” tuturnya dalam keterangan resmi, Kamis (12/11/2015).

Saat ini Australia melalui Pelabuhan Townsville memiliki hubungan perdagangan yang baik dengan Indonesia, oleh karena itu Pelindo II berencana membuka pelayaran langsung (direct call) dari Indonesia ke Townsville yang merupakan salah satu pelabuhan tersibuk di wilayah utara Australia dengan persentasi ekspor sebesar 58% di seluruh Australia.

Komoditi utama yang dibawa dari Townsville ke Indonesia adalah sapi, gula dan timah. Selama ini, tidak adanya pelayaran langsung dari Townsville menuju Indonesia membuat proses pengiriman barang harus melalui Asia Timur dengan lama pengiriman barang mencapai 23 hari kerja yang berimbas pada tingginya biaya logistik ketiga komoditas tersebut.

Selama ini, tidak adanya pelayaran langsung dari Townsville menuju Indonesia membuat proses pengiriman barang harus melalui Asia Timur dengan lama pengiriman barang mencapai 23 hari kerja yang berimbas pada tingginya biaya logistik ketiga komoditas tersebut.

Dengan kerjasama ini, diharapkan akan bisa memangkas waktu tempuh dan biaya logistik untuk barang-barang yang diimpor dari Australia dan sebaliknya. (kcm).

loading...