Angkasa Pura 2

Takdir Puluhan Tahun Menjadi Penjaga Menara Suar

Dermaga Figur SDMMinggu, 15 November 2015
disnav teluk bayur-penjaga menara suar

PADANG (BeritaTrans.com) – Menjadi penjaga menara suar berarti memilih hidup puluhan tahun di pulau – pulau terpencil. Tak hanya menjadi terisolasi dari pergaulan sosial, kerja di sarana bantu navigasi pelayaran itu juga menantang maut.

Kesan itu didapat BeritaTrans.com dan tabloid BeritaTrans dari wawancara dengan lima dari 38 penjaga menara suar Kantor Distrik Navigasi Teluk Bayur, Minggu (15/12//2015). Mereka adalah Akmal, Noviar, Syafrizal, Ibnu Mufid dan Putra Canggih.

Mereka bercerita ketika naik ke Kapal Negara (KN)) Muci, yang menjemput sekaligus mengantar tugas ke pulau lain, maka hati dipenuhi doa – doa memohon keselamatan karena hendak melewati lautan luas dengan ombak sering dahsyat.

gbr18

Doa terus dipanjatkan oleh penjaga menara suar dan istri sepanjang berlayar di kapal milik Distrik Navigasi Teluk Bayur itu. Begitu menginjakkan kaki di pulau tujuan, doa syukur dipanjatkan karena selamat di perjalanan. “Sekaligus dimulainya lagi kami berdoa agar tidak lelah dan selamat di perjalanan menuju mercu suar. Kami juga berdoa juga diberi keselamatan dan kesehatan selama bertugas,” ungkap Noviar.

Lelaki kelahiran Padang, 7 Nopember 1959 itu bercerita ancaman tetap ada di perjalanan menuju menara suar. Contohnya di Pulau Bojo. Ada ratusan sapi liar yang bisa saja tiba – tiba menyerang. Padahal penjaga menara suar harus menenteng barang keperluan pribadi, sekaligus logistik dan BBM untuk keperluan menara suar.

“Kami pernah didatangi gerombolan sapi liar. Kami langsung lepas barang bawaan kami dan secepatnya pergi ke bukit,” tutur Ibnu Muifid, pria kelahiran Bukittinggi, 5 Desember 1967. Begitu sapi – sapi pergi, Abdul Mufid bersama kawan – kawannya segera mengambil barang bawaan dan pergi mendaki bukit dengan jarak tempuh tujuh kilometer.

Tak hanya ancaman, Ibnu Mufid juga pernah mengalami duka mendalam. Ketika sedang bertugas di Pulau Bojo, dia mendapat kabar anaknya meninggal dunia. Dengan dibantu perahu nelayan dan naik kapal perintis, di tiba di Pariaman. Namun sesampai di rumah, anak saya telah dimakamkan. Selama beberapa bulan tidak berjumpa, pertemuan terakhir harus dilakukan di pemakaman.

Sedangkan Noviar mengungkapkan istrinya mengalami keguguran ketika mengandung anak pertama. “Ya terpaksa saya mengantar istri dulu dari pulau ke Padang. Naik perahu nelayan, lalu dilanjutkan dengan kapal perintis,” ungkapnya.

Beda lagi dengan Syafrizal, yang pernah terserang penyakit malaria. “Waduuuh…rasanya badan sangat tidak karuan. Kayak mau mati saja. Untungnya saya bisa dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit di Padang,” ujarnya sambil mengemukakan malaria dan demam berdarah merupakan penyakit yang menjadi ancaman terbesar bagi penjaga menara suar.

Ancaman lain yang sering diderita oleh penjaga menara suar adalah gigi keropos dan akhirnya rontok satu – satu. “Ini karena kami setiap hari mandi, minum dan masak dengan menggunakan air hujan yang ditadah di bak penampungan. Kalau musim kemarau berkepanjangan, ya terpaksa memanfaatkan air laut. Kalau air tanah, selain jarang didapat, juga kalaupun bisa diambil ya rasanya payau,” ucapnya.

Mandi dengan air laut, bagaimana rasanya? “Ya karena sudah biasa, ya segar – segar saja rasanya,” cetus Putra Canggih disambut tawa Akmal, Syafrizal, Noviar dan Ibnu Mufid.

DITEMANI SUNYI
Setiap hari mereka hanya ditemani suara debur ombak dan serangga. Kertika malam, sunyi pun menyergap. “Hiburan kami hanya dengarkan radio. Ini untuk menepis kesedihan karena jauh dari anak – anak dan saudara,” tutur AKmal.

Kesedihan di dalam dada begitu bergemuruh ketika Hari Raya Idul Fitri. Malam takbiran dan Hari Lebaran harus dilalui hanya bersama sesama penjaga menara suar. Shalat Ied pun tak mungkin dilakukan. “Kami tak berani mendengar takbiran di malam lebaran. Sedih sekali mndengarnya,” tutur Noviar.

Lalu apakah memadai pendapatan yang diberikan negara untuk mereka. “Kami tetap ikhlas dan bersyukur apapun yang kami dapat dan kerjakan. Hanya saja kalau ada peningkatan kesejahteraan, tentu kami akan lebih bersyukur lagi,” ujarnya.

TAKDIR UNTUK KESELAMATAN
Memang lebih banyak duka yang dirasa. Namun seperti dikemukakan Kepala Distrik Navigasi Teluk Bayur, Capt. Sukiat, M.Mar, risiko seperti itu dilalui dengan ikhlas. “Karena mereka menganggap sudah ditakdirkan sebagai abdi negara yang bertugas membantu keselamatan pelayaran. Jadi ini memang takdir untuk berbuat baik menjaga keselamatan,” ujar ukit.

Lalu bagaimana dengan mengkonumsi air hujan? Sukit menuturkan ketika dikirim ke lokasi bertugas, ada logistik air minum. Namun memang jumlahnya tak memadai dan pasti tidak cukup untuk kebutuhan selama 4 bulan. “Tahun 2016, kami akan mengadakan alat pengolah air hujan dan air laut menjadi layak konsumsi. Semua menara suar akan dilengkapi peralatan itu,” ungkapnya.

Sukiat juga mengungkapkan sduah mendapat kabar dari Kementertian Perhubungan bahwa jabatan menara suar akan ditingkatkan dari grade 3 menjadi grade 8. “Ini artinya di luar pendapatan dari tunjangan kinerja, mereka juga akan mendapatkan gaji lebih besar karena kenaikan grade itu,” jelasnya.

Rencana itu tentu saja menjadi kabar gembira untuk penjaga menara suar. “Walau misalnya saya tak akan sempat menikmati, ya adanya peralatan dan kenaikan grade jabatan itu akan semakin memompa semangat kerja penjaga menara suar,” cetus Sukiat, yang setahun lagi pensiun sebagai PNS. (agus awe/email: beritatrans@gmail.com).