Angkasa Pura 2

Susi Pudjiastuti: Indonesia Tak Butuh Kapal Asing Penangkap Ikan!

Kelautan & PerikananJumat, 20 November 2015
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menunggu detik-detik peledakan kapal nelayan asal Thailand di Selat Dempo, Kepri, Senin (9/2).

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bidang Kelautan dan Perikanan diminta untuk tidak membawa kapal asing lagi ke Laut Indonesia. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti menanggapi pernyataan Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan, Yugi Prayanto di beberapa media cetak dan elektronik.

Susi menegaskan, Yugi meminta agar perikanan tangkap terbuka untuk asing tapi harus dikawal dengan saham mayoritasnya milik orang Indonesia. “Saya tidak setuju, bagaimapun juga untuk perikanan tangkap orang Indonesia sudah luar biasa hasilnya,” kata Susi di Jakarta, Kamis (19/11).

Menurutnya, Indonesia tidak perlu kapal-kapal asing menangkap ikan di laut Indonesia, apalagi nelayan asing. “Jadi saya minta kepada Kadin untuk tidak membawa kapal asing lagi,” ujarnya.

Ia menegaskan, hanya negara terbelakang yang memberikan izin tangkap ikan kepada pihak asing. Menurutnya, negara maju di mana pun tidak ada yang memberikan izin tangkap ikan kepada asing.

Susi menyatakan akan terus mendorong agar nelayan lokal memanfaatkan laut Indonesia sebaik-baiknya. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan mendukung dengan menggelontorkan Rp 4 triliun untuk perikanan tangkap.
“Yugi sudah menikmati sebagai agen tapi sekarang harus berbisnis beneran, kita harus support nelayan Indonesia untuk tangkap ikan,” katanya.

Sebaiknya, Susi menegaskan, para pelaku usaha Kadin Indonesia melakukan investasi, mencari pasar, membangun nelayan, dan membina nelayan. Jangan lagi beralasan, armada dalam negeri tidak cukup untuk mendukung industri pengolahan perikanan.

Ia mengatakan, tiga minggu yang lalu, Presiden RI, Joko Widodo berpesan agar semua pengelolaan sumber daya alam invetasi dari luar negeri harus hati-hati namun untuk manufaktur silahkan dibangun.

Menurutnya, jika asing ingin investasi di sektor industri pengolahan perikanan tidak masalah namun untuk perikanan tangkap tetap tidak boleh. Ia berharap, akan lebih baik lagi jika pengusaha dalam negeri yang melakukan investasi pengolahan perikanan.

Menurutnya, sebetulnya investasi pengolahan perikanan yang paling canggih sekali pun seperti pabrik pembekuan, oven/pengeringan tidak mahal. Ia memperkirakan biaya yang dibutuhkan untuk investasi industri pengolahan ikan sekitar Rp 100-200 miliar. “Uang itu kecil, pengusaha Indonesia pun sebenarnya bisa sehingga tidak perlu asing lagi, asing lagi,” katanya.

Ia pun mengingatkan kepada pelaku usaha untuk tidak membangun pelabuhan khusus perikanan. Karena dikhawatirkan akan digunakan untuk kegiatan illegal fishing lagi. “Kalau pelabuhan umum boleh, kalau pelabuhan khusus perikanan tidak boleh,” katanya.

Direktur Jenderal Peningkatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautdan dan Perikanan (KKP), Nilanto Perbowo mengklaim bahwa sudah ada banyak investor dari luar negeri berminat untuk investasi industri pengolahan perikanan di Indonesia. Akan tetapi sampai saat ini belum ada investasi pengolahan perikanan yang masuk.

“Saat ini belum ada informasi lebih lanjut dari BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) mengenai investasi pengolahan perikanan yang masuk,” katanya. (sumber: sinar harapan).

loading...