Angkasa Pura 2

Kasus Freeport Dan Petral Momentum Bagi Presiden Jokowi Untuk Berantas Mafia

Another News KPKMinggu, 22 November 2015
Ferdinand Hutahaen

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Skandal permintaan saham PT Freeport  Indonesia yang menghebohkan dan hasil audit investigasi Petral telah menyita perhatian publik di Tanah  Air. Sungguh dua “skandal” ini  telah membuka tabir hitam kelakuan pejabat negara yang berkolaborasi dengan pengusaha yang akhirnya melahirkan simbiosis mutualisma berujung korupsi dan perampokan hak negara,perampokan hak rakyat.
 
“Ada yang menarik dari dua skandal memalukan ini. Satu sosok yang selama ini dicurigai sebaga mafia migas, yaitu MRC (Muhammad Riza Chalid) dalam dua skandal besar yang mempermalukan bangsa serta terindikasi merugikan keuangan negara trilliunan Rupiah,” kata Direktur Energi Watch Indoensia (EWI) Ferdinand Hutahaen di Jakarta, Minggu (22/11/2015).

Betapa hebatnya sosok MRC ini, lanjut dia, selalu hadir disetiap lumbung sumber kekayaan negara, dan patut diduga hadirnya MRC ini adalah menjadi mafia atau tikus yang menggerogoti isi lumbung sumber daya alam negara ini baik disektor migas maupun mineral.

Didalam skandal permintaan saham Freeport oleh Setya Novanto yang kini ditangani oleh Majelis Kehormatan Dewan DPR RI, hadir sosok MRC. “Kami menduga, kehadiran MRC diskandal tersebut adalah ingin memperluas jaringannya dan mencari kolaborasi baru serta ingin menjadikan diri sebagai pihak yang berjasa kepada Presiden Jokowi karena kemampuan kapitalnya yang sangat tidak diragukan,” jelas Ferdinan.

Patut diduga, MRC ingin masuk kedalam lingkaran presiden. Andaikan permintaan saham itu dipenuhi oleh Freeport, maka sangat patut diduga MRC lah yang akan mengambilnya dan menggantinya dengan uang  tunai dan membaginya kepada nama – nama yang disebutkan dalam skandal tersebut.

“Sekali lagi kami tegaskan bahwa ini hanyalah dugaan, Analisa berdasarkan situasi kehadiran MRC dalam pertemuan tersebut. Mengapa banyak pihak yang begitu ngotot membela Setya Novanto dalam skandal tersebut,” kilah Ferdinan dilomatis.

Maka dengan terbukanya skandal Saham Freeport ini, menurut Ferdinand, Presiden Jokowi mestinya menjadikan ini momentum bersih bersih diseluruh perusahaan tambang yang beroperasi di negara ini, perlu dibongkar semua untuk membersihkan perilaku koruptif pejabat yang bermain disektor ini hingga indikasi potensi kehilangan pendapatan negara sangat besar sampai trilliun rupiah dapat diatasi.  “Sungguh terbongkarnya skandal ini momentum indah untuk bersih bersih,” tandas Ferdinand.

Harus Dihindari

Laporan intervensi yang dilakukan oleh pihak luar yang menguasai kelompok usaha tertentu hingga dalam 3 tahun bisa menguasai kontrak senilai USD 18 miliar  atau lebih dari Rp200 triliun.

“Siapa pihak luar yang disebutkan dalam laporan tersebut? Disinilah yang mencengangkan, bahwa diduga nama yang sama juga muncul dalam skandal Freeport yaitu MRC dengan kelompok usaha miliknya. Sejak lama memang MRC terkenal dengan julukan The Gasoline God Father di Singapore, dinegara kita disebut mafia migas,” kilah Ferdiand.

Disektor migas ini, kilah Ferdinand, produk produk turunan dari minyak. Nama MRC diduga kuat menguasai pengadaannya selama tender dilakukan oleh Petral dan kabarnya hingga kini kelompok usaha tersebut masih mendominasi meski tidak separah jaman petral.

“Merujuk pada hasil audit tersebut, sangat tepat waktunya bagi Presiden Jokowi untuk serius membongkar seluruh praktek kemafiaan yang bermain disektor migas secara khusus pada bisnis yang berada dibawah tanggung jawab Pertamina,” tegas Ferdinand.(helmi)

loading...