Angkasa Pura 2

Capt. Rudiana: Pemilik Harus Singkirkan Kapal Wihan Paling Lambat 16 Desember 2015

DermagaRabu, 25 November 2015
IMG-20151122-WA0033

SURABAYA (BeritaTrans.com) – Dua sekoci masih terikat dan mengapung di kolam Termimal Teluk Lamong, Surabaya, Jawa Timur. Ada beberapa rambu suar di sekelilingnya.

Sekoci dan rambu itu menjadi penanda lokasi tenggelammya kapal KM Wihan Sejahtera bersama muatannya antara lain 60 truk besar, truk sedang dan kendaraan pribadi.

“Sekoci itu tidak bisa lepas karena masih terikat di dewi – dewi kapal,” tutur Syahbandar Pelabuhan Tanjung Perak, Capt. Rudiana Muchlis, MM, kepada BeritaTrans.com dan tabloid BeritaTrans, Selasa (24/11/2015).

Saat peninjauan dan pengawasan rutin ke lokasi tenggelamnya KM Wihan, Rudiana mengemukakan sekoci dan rambu suar itu menjadi penanda bagi kapal untuk tidak melintasinya.

20151125_135908

Dia mengemukakan posisi tenggelamnya kapal yang juga mengangkut ratusan penumpang itu memang mengganggu arus kapal di Pelabuhan Tanjung Perak, terutama di Terminal Teluk Lamong.

Karenanya, mantan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP), Jakarta, itu mengemukakan sesuai peraturan maka pemilik kapal Wihan, yakni PT Trimitra Samudra, sudah diultimatum untuk menyingkirkan kapal dari lokasi tersebut ke zona aman.

“Batas waktunya 30 hari. Jadi pada tanggal 16 Desmber 2015, kapal harus sudah disingkirkan dari lokasi. Bila batas waktu itu terlampuai, maka pemilik kapal wajib membuat berita acara penyerahan kapal kepada pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perhubungan,” ungkapnya.

Setelah diserahkan secara resmi, dia mengemukakan Kementerian Perhubungan akan segera melelang pengangkatan kapal tersebut. “Dengan demikian, kapal itu bukan lagi jadi milik Trimitra Samudra tetapi milik pemanang lelang. Penerintah mendapat penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari pemenang lelang,” tuturnya.

Sejauh ini, Rudiana Muchlis mengemukakan pemilik kapal menyatakan masih sanggup untuk mengangkat dan mebawa kapal itu ke lokasi aman.

2 KALI GAGAL
Meski demikian, dia mengemukakan Kantor Kesyahbandaran Pelabuhan Utama Tanjung Perak bersama PT Pelabuhan Indonesia (Pwlindo) II sudah berusaha menyingkirkan kapal KM Wihan Sejahtera.

“Dua kali dicoba diangkat dan disingkirkan menggunakan tiga kapal tugboat namun belum juga mendapatkan hasil positif. Gagal,” ungkap mantan Direktur Poltekpel Surabaya tersebut.

Terhadap KM Wihan dan kapal lainnya yang tenggelam di perairan Pelabuhan Tanjung Perak, terus diawasi oleh kapal patroli Kabtor Kesyahbandaran dan armada KPLP. Selain untuk mencegah aksi penjarahan, pengawasan dimaksudkan untuk mengetahui lebih dini bila terjadi perkembangan efek negatif dari kapal tenggelam, seperti pencemaran air laut. (awe).