Angkasa Pura 2

Catur: PT MRT Jakarta Pesan 600 Alumni API Madiun

Emplasemen SDMSabtu, 28 November 2015
Catur Wicaksono API

JAKARTA (BeritaTrans.com) – DireKtur Akademi Perkeretaapian Indonesia (API) Madiun Catur Wicaksono, ATD, MT mengatakan, PT Mass Rapit Transit (MRT) Jakarta telah memesan pada API di Madiun sebanyak 600 alumnusnya.

“Mereka akan direkrut sebagai karyawan PT MRT yang akan dioperasikan di Kota Jakarta dalam waktu beberapa tahun mendatang,” kata Catur kepada BeritaTrans.com di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, API sendiri pada tahun pertama dan kedua ini baru dapat meluluskan sebanyak 120 taruna program D-3. Itupun baru lulus angkatan pertama tahun 2017.

“Jadi, API butuh waktu 5 tahun untuk memenuhi kebutuhan PT MRT tersebutn,” kata Catur lagi.

Dalam pertemuan dengan mamajemen PT MRT yang lalu, jelas dia, disampaikan sudah ada beberapa perusahaan atau Pemda yang menyatakan minatnya untuk mengambil lulusan API Msdiun.

“Jika MRT tak mengambil lulusan API, akan ada pihak lain yang mengambilnya. Akhirnya Dirut MRT membuat MoU dan komit mengambil seluruh lulusan API angkatan I nanti,” papar Catur.

Sementara, saat ini Pemerintah bersama Pemda tengah getol mengembangkan jaringan KA di berbagai daerah. Mereka tentu membutuhkan SDM yang andal, khususnya di bidang perkeretaapian.

Alumni PT Umum Tak Bisa Langsung Kerja
Kebutuhan SDM unruk mengelola jaringan KA di Sulawesi, Kalimantan dan Papua dalam 4 tahun ke depan yang akan selesai dibangun, belum terpikirkan.

“Sejauh ini belum disediakan SDM yang akan mengelola dan mengoperasikan KA di daerah tersebut,” kata pakar transportasi Unika Soegijopranoto Semarang, Djoko Setijowarno, ST, MT menjawab BeritaTrans.com, Sabtu (28/11/2015)

Sementara itu, lanjut dia, untuk mengandalkan mahaiswa Jurusan Teknik Sipil, tentunya tidakk bisa langsug bekerja. Pasalnya mata kuliah Perkeretaapian hanya diberikan 2 SKS.

“Parahnya lagi, tidak setiap jurusan Teknik Sipil di PTN/ PTS di Tanah Air masih menyediakan mata kuliah ini. Beberapa PTN/PTS sudah menghilangkannya,” kilah Djoko.

Dia menambahkan, beberapa jurusan T. Sipil di luar Jawa dan sebagian Sumatera tidak memiliki jaringan KA, dan tidak menyediakan Mata Kuliah Perkeretaapian di jurusan tersebut.

Dengan kebutuhan yang cukup besar di sektor penyediaan SDM Perkeretaapian di masa akan datang, menurut Djoko, beberapa PTN/ PTS dapat membuka jurusan Perkeretaapian.

Kasus serupa pernah dilakukan ITB Bandung, saat PT IPTN – sekarang PT Dirgantara Indonesia- memproduksi pesawat CN 235 beberapa tahun lalu.

“Implikasinya, dibukalah jurusan Teknik Penerbangan di ITB dan para alumninya diserap masuk di BUMN yang berbasis di Bandung tersebur,” tersebur,” tegas Djoko.(helmi)

loading...