Angkasa Pura 2

BPSDM Perhubungan Kampayekan Pendidikan Pilot Bagi Putra Papua Dan Papua Barat

SDMSelasa, 1 Desember 2015
Pilot papua

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Kepala Badan Pengembangan SDM Perhubungan (BPSDM) Perhubungan Wahju Satrio Utomo, SH, M.Si terus memotivasi pemuda-pemudi kawasan timur Indonesia (KTI) untuk maju dan membekali diri dengan kemampuan teknis khususnya di bidang transportasi. Termasuk di dalamnya menjadi pilot dan nakhoda melalui sekolah-sekolah di lingkungan BPSDM Perhubungan di Tanah Air.

“Banyak profesi sektor penerbangan yang bisa diisi putra daerah KTI, mulai personel di bandara, pelabuhan, kapal sampai pilot pesawat terbang. Sedikitnya ada 11 putra Papua dan Papua Barat yang tengah menempuh pendidikan pilot di Balai Pendidikan dan Pelatihan Penerbangan (BPPP) Banyuwangi Jawa Timur,” kata Kepala BPSDM Perhubungan Wahju Strio Utomo menjawab BertaTrans.com di Jakarta, Selasa (1/12/2015).

Menurutnya, 11 putra Papua dan Papua Barat itu sudah setahun menjalani pendidikan pilot. Mereka rata-rata sudah mengantongi 50-55 jam terbang. Sambil menambah jam terbang, mereka terus meningkatkan kemampuan dan ketrampilannya sebagai calon pilot muda di Tanah Air.

“Untuk bisa diwisuda menjadi pilot dengan ratting commercial pilot lisence (CPL) mereka harus mengantongi minimal 180 jam terbang. Merek harus sudah lulus terbang solo dan sukses terbang malam sesuai ketentuan yang berlaku,” jelas Tommy, apaan akrab Kepala BPSDM Perhubungan itu.

Putra Papua Segera Menjadi Pilot

Sebelumnya, dua calon pilot BPPP Banyuwangi yang berasal Papua Restiana Zakenah dan Yosias mengatakan, dia sangat bangga bisa ikut pendidikan calon pilot di BPPP Banyuwangi. “Kami sebanyak 11 putra Papua dan Papua Barat tahun lalu sukses seleksi dan kini dalam tahap menyelesaikan pendidikan pilot di BPPP Banyuwangi Jawa Timur,” kata Resti, apaan akrab wanita kelahiran Kaimana, Papua Barat itu.

Tadi siang, lanjut mereka, diajak mendampingi Kepala BPSDM Perhubungan untuk satu acara talk show di stasiun tevisi nasional. Intinya, kita diminta memberikan kesaksian bagaimana pengalaman seleksi sampai ikut pendidikan calon pilot di BPPP Banyuwangi.

“Selama di kampus BPPP Banyuwangi, kita diperlalkukan sama sebagai siswa penerbangan. Tak ada diskriminasi dan perbedaan perlakukan sesame siswa, bahkan dengan siswa dari Polairud yang mengikuti program PPL di BPPP Banyuwangi diperlakukan sama,” tukas Resti.

Yosias, sesame calon pilot asal Papua menambahkan untuk menjadi pilot memang bukan perkara mudah. Selain lolos seleksi test akademik, kesehatan dan kesamapataan, kita semua juga harus lulus test bakat terbang dan tes kesehatan tahap kedua.

“Jika semua itu lolos, maka kita akan masuk diklat dengan material sama, yaitu masa dasar pembentukan, pendidikan teori di kalas, simulator sampai latihan terbang. Semua itu merupakan rangkaian yang harus ditempuh sebagai caloin pilot, bukan hanya di BPPP Banyuwangi Jawa Timur, tapi juga di flying school lainnya,” jelas Yosias.

Oleh karena itu, baik Resti atau Yosias, mengaku bangga dengan pendidikan pilot yang dijalaninya kini. “Putra putri Papua dan Papua Barat mempunyai kesempatan sama untuk meniti karier dan memilih profesi yang terhormat di masyarakat. Sebentar lagi, kita akan diwisuda menjadi pilot dan selanjutnya siap mengabdikan diri untuk membangun Papua dan Papua Barat,” tegas Resti.(helmi)