Angkasa Pura 2

Indonesia – Papua Nugini Tingkatkan Kerja Sama Perangi IUU Fishing

Kelautan & PerikananRabu, 2 Desember 2015
PSX_20151202_111234

Manado (BeritaTrans.com) – Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), meningkatkan kerja sama dengan Pemerintah Papua Nugini melalui penandatanganan joint communique untuk memerangi kegiatan Illegal Unreported and Unregulated (IUU) Fishing atau kejahatan perikanan dari perairan kedua negara.

“Intinya kita ingin bekerja sama untuk menjaga laut kita untuk generasi-generasi yang akan datang,” ujar Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, saat jumpa wartawan seusai acara Workshop Regional untuk IUU Fishing yang digelar Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia bertajuk Joint Communique and The 1st Regional on Combating IUU Fishing and Sustainable Fisheries Exercise di Gedung CTI-CFF, Manado, Selasa (1/12).

Menteri Susi mengatakan beberapa saat lalu ada kapal yang menggunakan bendera Indonesia yang mencuri ikan di perairan Papua Nugini dan ditembak dan ditenggelamkan oleh pemerintah di sana. Menurut Susi, dirinya tidak akan mempermasalahan itu, karena kapal yang ditembak oleh pemerintah Papua Nugini merupakan kapal asing yang menggunakan bendera Indonesia.

Hal yang sama, lanjut Susi, juga dilakukan oleh pihaknya. Pemerintah Indonesia sekitar bulan Januari lalu juga meledakan dua kapal berbendera Papua Nugini yang mengambil dan mencuri ikan di perairan Indonesia. Namun tindakan yang dilakukannya tidak dipermasalahkan oleh pihak pemerintahan Papua Nugini. “Di Indonesia juga waktu Januari, kita ledakkan dua kapal berbendera Papua Nugini. Ambassador Peter Ilau (Duta Besar Papua Nugini) bilang silahkan itu bukan kapal kami,” ujarnya.

Melihat contoh kasus tersebut, menurut Susi, dapat disimpulkan bahwa banyak negara lain yang mempermainkan Indonesia dan Papua Nugini saat melakukan mencuri ikan di dua wilayah negara ini.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) KKP, Syarief Widjaja mengatakan selain memberantas illegal fishing di perairan dua negara, kerja sama ini juga dilakukan untuk memajukan tata kelola berkelanjutan antara KKP RI dengan Kementerian Perikanan Papua Nugini.

Syarief berharap kesepakatan serupa dapat terjadi dengan negara lainnya karena pemberantasan kejahatan IUU Fishing tidak dapat dilakukan sendiri oleh Pemerintah Indonesia. Apalagi di kejahatan perikanan dan kelautan tersebut juga bersifat transnasional dan lintas sektor. Dia berharap lokakarya ini akan menghasilkan komitmen kuat dalam memerangi IUU fishing.”Kami akan terus berupaya di masa mendatang agar kerjasama serupa akan terjadi dengan negara CTI-CFF lainnya,” jelasnya.

Seperti diketahui, Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Security (CTI-CFF) adalah kemitraan multilateral enam negara yang terdiri dari Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon dan Timor Leste yang dibentuk pada 2007.

Kerja sama yang tertuang dalam Joint Communiqu ditandatangani kedua pihak serta disaksikan perwakilan negara-negara sahabat seperti Selandia Baru, Australia, Anggota NegaraCT6, Brunei Darussalam dan negara peserta kerja sama RPOA IUU. Pada saat yang bersamaan juga dilakukan peresmian gedung CTI-CFF dan basis operasi dan kegiatan terkait dalam upaya pelestarian terumbu karang, pantai dan sumber daya laut di wilayah tersebut. Selanjutnya pada 2-3 Desember 2015 dilakukan rangkaian kegiatan CTI-CFF Senior Offical Meeting (SOM) pertama kali.(Wahyu)

loading...