Angkasa Pura 2

Tommy: 6 Kapal Latih Juga Difungsikan Layani Rute Perintis, Agar Taruna Praktik Layani Masyarakat

Dermaga SDMKamis, 10 Desember 2015
Tommy

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Masyarakat di wilayah terluar Indonesia akan mendapatkan tambahan enam kapal baru yang akan dioperasikan di rute-rute perintis di Tanah Air, termasuk empat kapal di kawasan timur Indonesia (KTI). Armada tersebut adalah kapal latih taruna sekaligus dioperasikan untuk melayani rute-rute perintis.

Kapal itu adalah Kapal Latih (KL) Taruna (ransportasi yang akan ditempatkan di Poltekpel Surabaya, PIP Makassar, BPPP Minahasa Selatan dan BP2IP Sorong Papua.

Sedangkan dua kapal lainnya di kawasan barat Indonesia, yaitu BP2IP Malahayati Aceh dan STIP Jakarta. Kedua kapal latih itu akan mempunyai peran dan fungsi yang sama. Kapal latih taruna sekaligus melayani rute perintis di daerah.

“Kapal latih itu akan dioperasikan untuk rute-rute perintis di daerah masing-masing kampus. Nanti dari kapasitas yang ada, separuh untuk taruna prala dan selebihnya untuk masyarakat sekitar yang membutuhkan pelayanan,” kata Kepala BPSDM Perhubungan Wahju Satrio Utomo, SH, M.Si saat dihubungi BeritaTrans.com dan tabloid mingguan BeritaTrans, Kamis (10/12/2015).

Menurutnya, kontrak pembangunan enam kapal latih taruna sudah diteken. Kapal tersebut akan mulai diserahkan awal 2017. Dari jumlah tersebut, empat kapal di antaranya di tempatkan di kampus-kampus pelaut di KTI.

“Kapal untuk Poltekpel Surabaya akan melayani rute perintis dari Jawa Timur, Bali, NTB dan NTT. Kapal PIP Makaasar melayani rute Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, dan kapal untuk BPPP Minahasa Selatan dioperasikan di daerah Sulawesi Utara, Gorontalo dan Sulawesi Tengah,” kata Tommy.

Sementara, lanjut dia, kapal latih untuk BP2IP Sorong akan dioperasikan di daerah Papua, Papua Barat, Maluku dan Maluku Utara.

“Jadi, hampir semua daerah terdepan dan wilayah kepulauan di KTI akan terjangkau layanan transportasi laut. Termasuk kapal-kapal latih taruna yang dioperasikan di rute perintis ini,” papar Tommy.

Bangun Budaya Melayani

Dengan penambahan kapal latih baru itu, menurut Tommy, dalam setahun bisa menampung sampai 600 taruna prala. Selain empat kapal di KTI, ada dua lainny yaitu di BP2IP Malahayati Aceh dan STIP Jakarta.

“Ke depan, kapal latih itu bukan hanya untuk taruna prala dari sekolah-sekolah BPSDM Perhubungan. Dimungkinkan, taruna dari sekolah-sekolah swasta bisa ikut prola di kapal negara ini,” terang Tommy.

Pemberian kesempatan kepada taruna swasta itu seiringan dengan perubahan paradigma pemerintahan yakni ke budaya harus melayani rakyat. Bukan sebaliknya minta dilayani layaknya seorang juragan.

“Sejak mereka masih taruna, harus dididik untuk melayani dan turun langsung ke masyarakat dan ikut membantu kebutuhan masyarakat,” sebut Tommy.

Saat mereka lulus dan bekerja mengabdi untuk bangsa dan negara, menurut jiwa melayani dan kepedulian itulah yang perlu dipupuk dan dikembangkan.

“Keluarga besar BPSDM Perhubungan mulai taruna sampai yang tertinggi harus mulai hidupo baru, dengan jiwa melayani dan kepedulian yang tinggi ke masyarakat. Semua itu merupakan wujud pengamalan Pancasila dan UUD 1945 dalam kehidupan sehari-hari,” urai Tommy.

Dukung Program Nawa Cita

Kehadiran kapal latih dan taruna pelaut itu, tambah Tommy merupakan partisipasi dan bentuk kehadiran langsung negara Indonesia di mata rakyatnya.

“Organ negara turun langsung menyapa dan melayani masyarakat termasuk di daerah terpencil dan terluar NKRI,” urai Tommy.

Jadi, taruna transportasi BPSDM Perhubungan beserta seluruh SDM pendukungnya siap turun langsung melayani masyarakat.

“Ini merupakan betuk aplikasi sekaligus dukungan penerapan program Nawa Cita Presiden Jokowi dan Wapres JK,” kilah Tommy.

Sesuai semboyan dan tujuan akhir BPSDM Perhubungan, tambah Tommy, harus mampu menciptakan insan perhubungan yang prima fisiknya, profesional kerjanya dan beretika yang baru.

“Semua itu sudah dididik dan ditanamkan sejak dini, saat mereka masih taruna di Sekolah transportasi di lingkungan BPSDM Perhubungan,” tegas Tommy.(helmi)