Angkasa Pura 2

Kasus-Kasus Libatkan Artis

IPW: Kerja Polri Memberantas Pelacuran Online Sering Mengecewakan

Aksi PolisiSelasa, 15 Desember 2015
Neta-S-Pane

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Kerja keras jajaran Polri dalam memberantas kasus pelacuran online sangat disayangkan dan sering mengecewakan publik. Seakan Polri tidak mampu berdiri di atas rasa keadilan masyarakat.

“Buktinya, sang artis sebagai pelaku dan konsumennya tidak pernah tersentuh. Bandingkan, jika aparat menggerebek pelacuran di hotel melati, pihak perempuan maupun lelaki sebagai hidung belang, diangkut ke atas truk. Kenapa pelacuran di hotel bintang lima lebih diistimewakan,” kritik Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S.Psne di Jakarta, Selasa (15/12/2015).

Dia melanjutkan, apakah undang undang memang mengistimewakan kejahatan di hotel bintang lima? Untuk itu dalam menuntaskan kasus pelacuran online Polri harus punya niat baik yang serius. Pada akhirnya, Polri bisa mengenakan pasal berlapis, baik terhadap pelacurnya, pemakainya maupun mucikarinya.

Dalam kasus ini (pelacuran online dan di hotel) Polri bisa saja menggunakan UU ITE untuk membongkar awal transaksi prostitusi online ini. Apakah awal transaksinya lewat SMS, BBM, dan media sosial lainnya.

Dari sini, menurut Neta Pane, bisa diketahui apakah ada permintaan dari siwanita untuk mencarikan order (pelacuran) kepada simucikari. Begitu juga buat silelaki, apakah ada permintaan untuk mencarikan wanita untuk dikencani. Jika ada, berarti siwanita bisa dikenakan tuduhan telah bersekongkol untuk memperdagangkan dirinya sendiri.

Begitu juga silelaki bisa dikenakan tuduhan telah bersekongkol dalam aksi perdagangan manusia dan ybs sbg konsumen. Jika Polri hanya terpaku pada UU TPPO, kasus pelacuran online yang melibatkan para artis cantik ini tidak akan pernah selesai dengan tuntas. Sebab tidak akan ada efek jera.

Dia menambahkan, si artis yang terlibat dalam memperdagangkan dirinya tidak tersentuh hukum dan cenderung dilindungi polisi. Begitu juga para konsumennya selalu merasa aman. Sehingga upaya pengungkapan kasus prostitusi online ini hanya sekadar sebuah sensasi dan aksi pelacuran online akan terus berulang.

Polri Harus Tuntas

Selanjutnya, IPW meminta Polri menuntaskan kasus pelacuran online yang diduga melibatkan sejumlah artis di Tanah Air. Masalah ini menjadi momentum Polri untuk memulihkan kepercayaan masyarakat sekaligus membutkikan apara penegak hukum itu memang profesional bekerja.

“Polri harus serius memperhatikan rasa keadilan masyarakat. Polri tidak terpaku hanya menjerat sang mucikari dengan Undang Undang Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO),” pinta Neta Pane.

IPW menilai, selama ini dalam mengungkap kasus pelacuran online Polri hanya menjerat mucikarinya. Padahal kasusnya sempat sangat heboh, sehingga Polri terkesan hanya sekadar mencari sensasi dalam mengungkap kasus ini.

“Dalam kasus pelacuran, sedikitnya ada tiga pihak yang terlibat, yakni pihak perempuan, lelaki sebagai konsumen dan mucikari sebagai perantara. Kasus pelacuran, tidak selalu bernuansa seseorang memperdagangkan perempuan. Terkadang ada perempuan yang memperdagangkan dirinya melalui berbagai cara,” tandas Neta.(helmi)

loading...