Angkasa Pura 2

Pelaut Harus Memadukan Penguasaan Iptek Dan Membaca Tanda-Tanda Alam

Dermaga SDMSelasa, 15 Desember 2015
Capt. Sajim 3

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta (STIP) Jakarta komitmen meningkatkan proses pendidikan dan latihan (diklat) calon pelaut, baik untuk taruna akademik atau siswa short course. Semua lulusan STIP Jakarta harus dipastikan siap bersaing di pasar global dan menjadi pelaut-pelaut yang pilih tanding.

“Pihak kampus terus berbenah diri dan melengkapi fasilitas diklat taruna, terutama terkait keahlian teknis pelaut serta kemampuan untuk peningkatan keselamatan pelayaran,” kata Kasie Kapal Latih STIP Jakarta Capt. Sajim Budi Setiawan, MM kepada BeritaTrans.com di Jakarta, Selasa (15/12/2015).

Untuk mendidik dan menyiapkan taruna menjadi pelaut andalan dan professional, menurut Capt. Sajim, harus dilakukan sejak taruna di kampus. Para taruna pelaut mutlak harus menguasai dan bisa mengoperasikan peralatan dan fasilitas di kapal yang sudah menggunakan produk ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang canggih.

“Kapal-kapal generasi terbaru sudah menggunakan fasilitas canggih, termasuk alat-alat keselamatan mulai kompas, radar sampai skoci, life jacket dan lainnya. Semua itu harus bisa dioperasikan untuk menunjang kelancaran tugas dan bekerja di atas kapal,” terang Sajim.

Seluruh peralatan canggih di atas kapal, jelas dia, dibuat dan dipersipakan untuk membantu meringakan beban kerja manusia khususnya anak buah kapal (ABK) saat berlayar.

“Produk iptek khususnya di bidang maritim harus membantu tugas manusia, terutama meningkatkan keselamatan baik penumpang atau barang muatan di atas kapal,” tandas Sajim.

Di sisi lain, tambah dia, taruna pelaut juga harus bisa menguasai dan manfaatkan ilmu bintang untuk menentukan arah dan tujuan kapal terutama di malam hari. Sedang di saat siang hari, arah mata angin serta waktu sholat dan arah kiblat bagi ABK yang muslim. Semua itu bisa ditentukan dan dipelari dari pergerakan bumi dan matahari serta bertebarannya bintang di langit.

“Tanda-tanda alam itu harus dikuasai dan diajarkan kepada taruna pelaut. Peralatan dan teknologi kapal sudah canggih, tapi ilmu bintang dan tata surya tetap harus dipelajari calon pelaut di STIP. Dalam kondisi sulit sekalipun, saat mereka berlayar di lautan ganas mereka harus mengutamakan keselamatan. Saat itulah bintang, matahari dan benda alam lainnya harus dipelajari untuk membantu meringankan pelaut saat berlayar,” urai Sajim.

Dia menambahkan, seluruh fasilitas diklat termasuk Kapal dan Kolam Latih di STIP ini disiapkan untuk mendidik dan melatih kemampuan pelaut yang andal. “Mereka memiliki kemampuan teknis sebagai pelaut, menguasai dan bisa mengoperasikan iptek sekaligus piawai membaca tanda-tanda alam untuk menunjang pekerjaan sebagai pelaut. Dengan begitu, keselamatan pelayaran di Indonesia dan dunia akan meningkat,” tegas Sajim.

Capt. Sajim - Arifin

Tambah Fasilitas Diklat

Ketua STIP Jakarta Capt. Arifin Soenardjo, M.Hum baru meresmikan fasilitas diklat terbaru, yaitu Helikopter Simulator. Fasilitas diklat itu dibangun di Kompolek Kolam Latih taruna STIP Jakarta. Fasilitas tersebut sangat dibutukan untuk diklat taruna bahkan pasis yang mengambil program peningkatkan kompetensi pelaut sampai ANT-I di Kampus STIP ini.

“Helikopter Simulator itu akan melengkapi boat/ kapal latih lengkap dengan alat-alat kesematan dan fasilitas basic safety training (BST) yang sudah ada sebelumnya. Termasuk di dalamnya peralatan untuk peningkatan kemampuan SAR taruna STIP. Di Kolam Latih STIP ini, kini selain kapal boat, dan alat-alat keselamatan juga dilengkapi helikopter simulator. Melalui simulator terbaru itu, taruna bisa melatih dan meningkatkan kemampuan SAR khususnya evakuasi korban dari laut ke helicopter atau sebaliknya,” jelas Capt. Sajim usai mendampingi Ketua STIP meresmikan Helikopter Simulator tersebut.

Menurutnya, peningkatan keselamatan pelayaran harus terus ditingkatkan. Oleh karena itu, para taruna harus dibekali kemampuan untuk bertahap, menghadapi kondisi darurat di luat mulai tingkat dasar sampai lanjutan.

“Mulia tahun 2017 mendatang, seluruh pelaut di dunia termasuk dari Indonesia harus sudah comply pada aturan STCW-2010 Amandemen Manila. Oleh karena itu, fasilitas dan perlengkapan diklat di STIP sebagai sekolah pelaut andalan di Indonesia harus ditambah,” kilah Sajim.

“Taruna STIP harus ditambah dengan kemampuan SAR baik di darat atau di laut. Kita tak berharap terjadi celaka, tapi jika terjadi kondisi darurat mereka harus siap. Oleh karena itu, mereka harus dibekali ketrampilan dan kemampuan untuk bertahan hidup bahkan memberikan pertolongan atau SAR yang cukup,” tegas Sajim.(helmi)