Angkasa Pura 2

Pemerintah Dan Pertamina Harus Siapkan Antisipasi Terburuk Terhadap Penurunan Harga Minyak Dunia

Dermaga Energi KoridorSelasa, 22 Desember 2015
pertamina

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Merosot harga minyak dunia hingga dikisaran USD 30/ barel adalah ancaman serius bagi sektor minyak terutama sektor hulu akan sangat terpukul oleh penurunan harga minyak dunia.

“Pendapatan negara dari sektor hulu bisa defisit dan harus mensubsidi sektor hulu untuk menghindari kerugian. Bila harga minyak mentah mencapai USD 30/ barel atau bahkan dibawahnya maka kami yakin produksi akan lebih baik berhenti daripada mengalami kerugian besar atau minimal menurunkan target lifting,” kata Direktur Energi Watch Indonesia Ferdinan Hutahaen di Jakarta, Selasa (22/12/2015).

Semakin tinggi lifting, lanjut dia, makin tinggi pula kerugian. Masalah ini benar-benar menjadi simalakama bagi Pemerintah.

“Kami sarankan pemerintah segera susun escape plan atau jalan keluar dari ancaman ini tahun depan. Pemerintah harus siap dengan opsi lain sebagai peta jalan keluar supaya tidak mengagetkan dan kita tidak siap menghadapi tentu akan lebih berbahaya,” jelas Ferdinan.

Sementara itu disektor hilir, menurut Ferdinan, penurunan harga minyak mentah jadi membawa masalah tersendiri. Seharusnya penurunan harga minyak mentah adalah berkah bagi rakyat sebagai konsumen.

“Mestinya mereka dapat membeli BBM dengan harga murah setelah pemerintah menyerahkan penetapan harga BBM kepada mekanisme pasar,” kilah Ferdinan.

Ancaman Keuangan Pertamina

Tentu publik akan meminta penurunan harga BBM seiring merosotnya harga minyak. Namun penurunan harga jual BBM akan menambah ancaman keuangan bagi Pertamina.

Sektor hulu tidak mampu memberi keuntungan dan berharap pada sektor hilir, namun hilir juga menghadapi tekanan dari publik.

“Inilah dampak negatif dari penentuan harga yang mengacu kepada mekanisme pasar,” papar Ferdinan.

Pertamina dan pemerintah harus segera menyiapkan ketentuan baru untuk menghindari kerugian.

“Sebaiknya di tahun 2016, harga BBM ditetapkan flat selama 1 tahun dikisaran Rp7000 sampai Rp7500/ liter, ini penting untuk menjaga stabilitas APBN dan keuangan Pertamina,” tegas Ferdinan.(helmi)

loading...