Angkasa Pura 2

SCI: Layanan Angkutan Barang Harus Perhatikan Pengguna dan Penyedia Jasa

EmplasemenMinggu, 10 Januari 2016
kereta-api-barang

JAKARTA (beritatrans.com) – Anang Hidayat, Praktisi Kepelabuhanan Supply Chain Indonesia (SCI), mengatakan bahwa pelayanan pengangkutan barang harus memperhatikan kepentingan pengguna jasa dan penyedia jasa. Pasalnya, kedua kepentingan itu masing-masing memiliki fokus yang berbeda.

“Pengguna jasa fokus pada kebutuhan pengiriman barang agar efektif dan efisien. Sedangkan penyedia jasa transportasi fokus pada pengunaan sumber daya transportasi yang efisien agar dapat memberikan keuntungan dan keberlanjutan usaha,” kata Anang Hidayat melalui keterangan tertulis yang diterima beritatrans.com dan Tabloid Mingguan Berita Trans di Jakarta, Minggu (10/1/2016).

Menurut Anang Hidayat, kedua pihak harus saling bekerja sama agar tujuan masing masing tetap dapat tercapai. Selain itu, perlu perencanaan kordinasi dengan para pihak terkait agar dapat membawa manfaat bagi pelayanan logistik secara keseluruhan dan memberikan dampak pengurangan biaya logistik.

Secara lebih rinci, kata Anang Hidayat, para pengguna jasa mempertimbangkan cakupan layanan, biaya, jadwal, kehandalan, ketersediaan, fleksibilitas, dan kemudahan.

Layanan, dimulai dari lokasi muat pabrik sampai dengan Stasiun Pasoso (dock to ramp Pasoso) dan Stasiun Pasoso ke container yard (CY).

Sedangkan biaya, secara keseluruhan harus lebih kompetitif daripada dengan trucking.

Adapun jadwal, harus memperhitungkan rencana pengiriman barang dari sisi operasional pabrik dan jadwal keberangkatan di Pelabuhan Tanjung Priok.

Sementara kehandalan rute adalah waktu tempuh yang lebih cepat dibanding dengan trucking dan emergency response bila terjadi back log, misalnya kereta anjlog.

Ketersediaan space harus sesuai dengan hasil pengkajian delivery time dan vessel departure schedule.

Fleksibilitas yaitu bahwa jadwal bisa mengakomodir kebutuhan delivery time dan mampu menampung kontainer bila ada kebutuhan early stacking.

“Kemudahan layanan yaitu hanya dilakukan cukup satu kali entry di TPK Gedebage saja, terlebih jika bisa langsung dapat memberikan seluruh rincian biaya sampai di CY,” ujar Anang Hidayat.

Dari sisi KAI, penyediaan transportasi dengan model ramp to ramp akan sulit dalam mempertahankan sustainability, tetapi dengan model dock to ramp akan sulit untuk memberikan return kepada perusahaan, karena ujungnya juga adalah soal keuntungan (kecuali dengan PSO). Salah satu solusinya adalah dengan membuat turn round freight, yaitu angkutan impor dan ekspor sehingga muatan freight berimbang ke dan dari Pelabuhan Tanjung Priok.

Menurut Anang, pengoperasian kereta api kontainer harus dilakukan dengan strategi yang tepat. Diantaranya, Stasiun Pososo menjadi TPS impor dan ekspor, dengan syarat tidak menimbulkan biaya tambahan yang lebih besar terkait biaya penumpukan.

Kemudian simplifikasi prosedur angkut lanjut sehingga proses penyelesaian impor bisa dilakukan di TPK Gedebage. Simplikasi ini harus bisa mengakomodasi kemudahan pelaksana dan kebutuhan jaminan kepabeanan.

Dukungan kemudahan pelayanan dengan sistem informasi teknologi yang memadai sehingga mampu memberikan kemudahan pelacakan,  koordinasi antar simpul rantai, dan akurasi kehandalan data.

“Dukungan pengguna jasa di Bandung dengan semua volume terkumpul akan menjadi satu kekuatan penarik bagi industri penyedia jasa, baik pelayaran dan transportasi, sekaligus menjadi negotiating power,” tuturnya.

Anang hidayat menyimpulkan bahwa pengangkutan kontainer Jakarta-Bandung tersebut berpotensi memberikan beberapa manfaat seperti: Penurunan tingkat kepadatan di Pelabuhan Tanjung Priok; Penurunan tingkat kepadatan lalu lintas jalan Jakarta-Bandung; Penurunan tingkat polusi karena pengurangan lalu lintas jalan Jakarta-Bandung; Penurunan biaya logistik karena pengurangan penanganan barang selama transportasi; Peningkatan return dengan pertambahan ritase, peningkatan usia kendaraan, dan pengurangan biaya operasional dan pemeliharaan armada bagi transporter; Peningkatan pola kerja sama antar sesama forwarder PPJK; dan peningkatan pendapatan Stasiun Pasoso dan TPK Gedebage. (aliy)