Angkasa Pura 2

Ferdinan: Di Era Rini Soemarno, Marak Perseteruan Antar BUMN

Another News EnergiRabu, 13 Januari 2016
Rini Soemarno

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Di era Menteri BUMN Rini Soemarno, banyak yang terbengkalai dan tidak terurus. Menteri Rini tanpa adanya upaya untuk memperbaiki kinerja dengan mengganti jajaran direksi yang memang tidak mampu bangkitkan perusahaan yang dipimpin.

“Rini mendiamkan BUMN tidak sehat karena tidak punya nilai dan hanya fokus pada BUMN besar yang nilai kapitalnya besar. Ini kelihatan sekali cara memimpin yang “dengan rakusl hanya melihat BUMN yang nilai kapitalnya besar,” kritik Direktur Energy Watch Indonesia (EWI) Ferdinan Hutahaen di Jakarta, kemarin.

Di era Rini pula, lanjut dia, yang paling parah adalah maraknya perseteruan antara BUMN. Kita lihat bagaimana Pertamina berseteru dengan PLN tentang harga uap panas Geothermal, Pertamina berseteru dengan PGN tentang niaga gas.

Dan anehnya, papar Ferdinan, Rini sebagai Menteri BUMN lebih berpihak pada yang merongrong nilai nilai positif dan kebaikan. Coba kita simak perseteruan Pertamina dengan PGN tentang niaga gas.

“Menteri Rini terlihat sangat berpihak pada PGN yang jelas jelas sahamnya 43% milik asing. PGN didukung Rini untuk mencaplok Pertagas anak usaha Pertamina yang sedang sehat dan sahamnya 100% milik negara,” kilah Ferdinan.

Menurut dia mestinya PGN dibubarkan dan dimerger menjadi anak usaha Pertamina dengan terlebih dulu buy back saham asing.

Demikian juga perseteruan antara Pertamina dengan PLN, seolah Pertamina disalahkan dengan mematok harga uap panas, padahal mestinya ini murni bisnis.

“Pertamina tentu punya hitungan sendiri yang didasari hitungan supaya tidak rugi, sementara PLN seolah menjadi otoriter dalam posisinya sebagai off taker energi listrik,” terang Ferdinan.

“Rini benar-benar berpihak pada yang tidak baik dan tidak benar. Belum lagi kebijakannya yang bersyahwat tinggi mengutang ke luar, ini tentu sangat tidak sehat bagi masa depan BUMN kita,” tandas Ferdinan lagi.(helmi)