Angkasa Pura 2

Jusman: Teknologi Pesawat Terbang Harus Diimbangi Kemampuan Pilot

Kokpit SDMRabu, 13 Januari 2016
Indonesia Jetliner Crash

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Jusman Safei Djamal, mantan Menteri Perhubungan yang juga Komisaris Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, mengatakan, kecanggihan teknologi pesawat terbang harus diikuti kemampuan dan keterampilan pilot.

“Kecenderungan otomatisasi di pesawat terbang menciptakan gap untuk menciptakan keselamatan dan keamanan penerbangan,” kata Jusman di Jakarta, kemarin.

Ia berharap keberadaan IPI bisa menjadi kesatuan pandang antarpilot di Indonesia. “Selama ini, pilot berada di dalam kotak-kotak organisasi maskapai. Dengan IPI, sekat-sekat yang membatasi komunikasi antara pilot dan regulator bisa diatasi. Yang lebih penting, komunikasi dan informasi yang terjalin bisa meningkatkan daya intelektualitas untuk meningkatkan pengetahuan yang terus berkembang. Semua perbedaan bisa diselesaikan dengan baik,” papar Jusman.

Menurut pengamat penerbangan Chappy Hakim, saat ini pilot menghadapi problem yang besar dalam konteks akselerasi teknologi.

“Oleh karena itu, pilot harus bisa menciptakan salah satu kelompok kerja yang mengkaji intelektualitas untuk melihat kemajuan teknologi dari perspektif pilot. IPI bisa menjadi wadah untuk meningkatkan profesionalisme pilot,” kata Chappy.

Michael Wattimena mengatakan, pertumbuhan yang sangat cepat di dunia penerbangan membutuhkan perubahan dalam kebijakan dan praktik pembinaan penerbangan.

“Ada banyak tantangan yang dihadapi dunia penerbangan saat ini, terutama dalam rangka perdagangan bebas internasional. Penerbangan nasional dihadapi pada persoalan infrastruktur, sistem penerbangan nasional, dan kesiapan sumber daya manusia. Indonesia dianggap tidak memenuhi standar minimum keamanan terbang internasional. Begitu juga di Eropa, baru sedikit maskapai nasional yang diizinkan terbang ke Eropa,” kata Michael.

Kekurangan pilot

Dari segi jumlah, Indonesia dinilai juga kekurangan pilot. Michael memaparkan, sepanjang 2011-2015, dibutuhkan 4.000 pilot. Namun, tenaga pilot Indonesia yang dihasilkan hanya 1.600 orang. Artinya, terjadi defisit pilot sebanyak 2.400 pilot pada 2015.

Alwi mengatakan, saat ini, pemerintah terus berupaya agar Indonesia bisa memenuhi standar keselamatan yang ditentukan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional.

“Saat ini, ada 1.620 temuan dan sudah 100 persen diperbaiki,” kata Alwi. Nilai kesesuaian dengan persyaratan yang ditentukan adalah 70 dan Indonesia mencapai 56.(hel/komp)

Terbaru
Terpopuler
Terkomentari