Angkasa Pura 2

IPW; Polri Perlu Kerja Keras Buru Jaringan “Teroris Sarinah”

Aksi Polisi Another NewsJumat, 15 Januari 2016

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Jajaran Polri perlu bekerja keras untuk membongkar jaringan Teroris Bom di Plasa Sarinah/ Jalan MH Thamrin Jakarta Rabu (14/1/2016), agar serangan yang sama tidak terjadi lagi di tempat lain di Ibukota Jakarta dalam waktu dekat.

Indonesia Police Watch (IPW) menilai, serangan di Thamrin adalah serangan yang gagal, tapi menimbulkan kejutan luar biasa.

“Gagal karena lebih banyak pelaku yang menjadi korban dan masih banyak bom yang tidak terpakai. Sehingga dikhawatirkan jaringan kelompok teror ini akan
mengulang kembali aksinya dalam waktu dekatn,” kata Ketua Presidium IPW Neta Pane di Jakarta, Kamis (16/1/2016).

Untuk itu, lanjut dia, Polri harus
segera memburu mereka agar tidak ada kesempatan mengulang aksinya.

IPW melihat ada tiga fenomena baru dalam aksi teror di Thamrin.
Pertama, inilah pertama kali ada teroris dalam jumlah banyak melakukan serangan terbuka di beberapa tempat di ruang publik, yang disaksikan banyak orang.

“Para teroris Indonesia melakukan aksi show off force yang luar biasa, dengan mencontoh apa yang terjadi di Paris pada November 2015,” jelas Neta.

Kedua, lanjut dia, serangan teroris ini menggunakan bahan peledak seadanya tapi para teroris nekat melakukan aksinya, seakan sudah siap melakukan aksi bunuh diri bersama-sama.

Ketiga, menurut Neta, para teroris tampak sangat tenang dalam beraksi. Tidak ada raut takut dan cemas, meski beraksi di ruang terbuka yang disaksikan banyak orang dan wajahnya gampang dikenali.

Sepertinya, menurut IPW, jaringan ini hendak mengirim pesan bahwa kelompok mereka lebih berbahaya dari kelompok teroris sebelumnya, karena punya keberanian luar biasa untuk melakukan serangan besar di pusat kota maupun pusat keramaian.

“Melihat fenomena yang mereka tampilkan besar dugaan aksi serangan teror ini dilakukan kelompok Solo,” sebut Neta.

Sebab sejak dikendalikan Sigit
Qurdowi, Geng Solo merekrut banyak remaja usia 16 atau 17 tahun dan
kelompok ini kerap mempertontonkan serangan terbuka, meski hanya
dilakukan satu dua orang.

Misalnya, papar Neta, tahun 2007, geng ini melakukan bom bunuh diri di mesjid Polres Cirebon atau menyerang sejumlah polisi di
pospam Lebaran 2012 di Solo.

Setelah Sigit tewas ditembak polisi, 2010 muncul Bahrum Naim yang saat
itu berusia 23 tahun. Saat Naim divonis PN Surakarta 2.5 tahun
bermunculan simpati dari anak-anak muda kepadanya.

“Begitu bebas, Februari 2015, Naim berangkat ke Suriah dan bergabung dengan ISIS. Naim bergabung dengan Abu Jandal asal Surabaya yang sudah lebih dulu, yakni 4 Desember 2015 berada di Suriah,” tukas Neta.

Ditambahkan Neta, kelompok ini banyak merekrut anak-anak muda untuk melakukan serangan kepada aparat keamanan dan kepentingan barat.

“Untuk itu Polri harus bekerja keras memutus jaringannya agar mereka tidak punya kesempatan melakukan serangan serupa dalam waktu dekat,” tegas Neta.(helmi)