Angkasa Pura 2

Perdebatan Soal FLNG Dan OLNG Sudah Basi

Another NewsSelasa, 19 Januari 2016

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Debat konsep Floating Liquefied Natural Gas (FLNG) dan Onshore Liquefied Natural Gas (OLNG) dalam –konteks Blok Migas Masela– yang dilakukan sekarang sudah basi! Keduanya tidak dapat memberi manfaat pada waktu cepat, selain menelan biaya yang demikian besar.

Penyelesaian proyek yang konon akan memakan waktu hingga 6-7 tahun ke depan jelas akan kalah berasing dengan para negara produser baru LNG yang siap membanjiri LNG dunia di tahun 2020-2022 dengan harga yang murah. Akibatnya gas Masela tidak ekonomis pada saatnya nanti.

Dilihat dari sisi teknik, komersial, maupun sosial, kedua konsep ini juga tidak reliable, tidak fleksibel, dan tidak berfek-ganda secara luas. Lalu, apa solusinya? Menurut saya, sebaiknya kita membangun FCNG (Floating Compressed Natural Gas)!

FCNG adalah fasilitas terapung yang digunakan untuk pengolahan gas menjadi CNG, dengan cara menekan gas hingga ratusan bar (ribuan psia) untuk memampatkan volumenya hingga seper-tigaratus nya.

Dari sisi operasional, FCNG ini lebih sederhana dan praktis, hanya membutuhkan FPSO (Floating Production Storage and Offloading), kapal-kapal pengangkut CNG, dan isotank (jika diperlukan). Keduanya sudah proven (banyak digunakan) dan banyak di pasaran.

Sementara jika membuat LNG membutuhkan pendinginan hingga minus 165 derajat Celcius untuk membuat gas menjadi cair dengan bahan cryogenic yang mahal. Kelebihan konsep FCNG lainnya adalah kecepatan dalam konstruksi dan biaya investasi.

Diperkirakan pembuatan FCNG berikut kapal-kapal CNG hanya membutuhkan waktu 3-3,5 tahun. Biayanya juga hanya untuk pengadaan FPSO dan 8 kapal CNG yang totalnya kurang dari USD 8 miliar. Bandingkan dengan FLNG/OLNG yang konon sekitar USD 16 miliar.

Pada konsep FCNG, gas yang berasal dari sumur akan diproses pada FPSO, kemudian dikompresi pada tekanan tinggi untuk menjadikan CNG. CNG lalu diangkut dengan kapal untuk didistribusikan ke konsumen. Konsumen CNG adalah konsumen gas alam biasa, seperti pembangkit listrik (PLN, IPP), pabrik pupuk, petrokimia, dan lain-lain.

Dengan demikian, konsep FCNG tidak memerlukan infrastruktur regasifikasi. Ini dapat menghemat jutaan dollar (setidaknya USD 3-5 /MMBTU) jika dibandingkan dengan kita membuat gas menjadi LNG kemudian menjadikannya gas kembali.

Selain itu, jika gas sudah menjadi CNG, maka kita juga dapat mengembangkan beberapa pembangkit listrik, pabrik pupuk dan industri petrokimia lainnya di pulau-pulau yang memerlukannya. Tidak hanya untuk masyarakat di sekitar Kepulauan Aru, Sulawesi, atau Papua, tapi untuk seluruh rakyat Indonesia yang memerlukannya.

Semua itu akan lebih mudah dijangkau dengan menyediakan kapal CNG skala kecil yang dirancang dan dibangun di dalam negeri (TKDN lebih besar). Dengan demikian, industri maritim akan tumbuh pesat dan ide tol-laut juga dapat segera direalisasikan.

Jika kita ingin mengekspor gas dari Blok Masela ini ke luar negeri, kita dapat memanfaatkan fasilitas Badak LNG di Bontang (Kalimantan Timur) untuk mengolah gas dari Blok Masela (yang telah berbentuk CNG) menjadi LNG.

Sehingga PT Badak LNG yg sekarang hanya mengoperasikan 4 kilang (train) dari 8 train yang ada dapat memaksimalkan asetnya. Biayanya pun sangaat murah karena semuanya sudah tersedia dan tidak perlu investasi lagi.

Keuntungannya lainnya adalah pada saat proses de-pressurized CNG, energi yang dihasilkan akibat penurunan tekanan CNG ini dapat dimanfaat sebagai pembangkit listrik di Kilang LNG Badak, sehingga akan mengurangi gas untuk keperluan utilities yang biasanya hingga 11 persen dari total feed gas.

Dari sisi risiko perhitungan cadangan gas, konsep FCNG lebih fleksibel. Dapat dikurangi atau ditambah kapasitasnya sesuai dengan produksi dan cadangan gas di Blok Masela. Sedangkan konsep FLNG/OLNG sangat tergantung kepastian perhitungan cadangan maupun produksinya.

(Salis S. Aprilian, President Director & CEO PT Badak NGL)