Angkasa Pura 2

Menjaga Menara Suar Menjaga Kehidupan

DermagaSabtu, 23 Januari 2016
Mensu_Ba'a_6

KUPANG (beritatrans.com) – Terkadang masyarakat menganggap sepele kepada profesi penjaga menara suar. Tidak jarang yang beranggapan bahwa menjaga menara suar adalah pekerjaan rendahan yang bergaji kecil dan hidup terpencil.

Anggapan yang kedua dan ketiga mungkin sedikit ada benarnya karena memang para penjaga menara suar hidup di tengah-tengah pulau terpencil. Tetapi bahwa para penjaga menara suar adalah para pekerja rendahan adalah sebuah anggapan yang salah besar. Justru penjaga menara suar adalah sebuah perofesi yang sangat mulia. Mereka adalah salah satu faktor penting dalam mencegah terjadinya kecelakaan pelayaran yang sering merengut korban, baik harta benda maupun nyawa.

Mensu_Ba'aaa

Mungkin tidak semua orang menyadari bahwa betapa pentingnya menjaga cahaya di menara suar tetap menyala, tetapi bagi seluruh petugas penjaga menara suar telah tertanam telah tertanam di dalam jiwanya bahwa menjaga terang cahaya menara suar sama dengan menjaga kehidupan alias nyawa manusia.

“Makanya para penjaga menara suar rela hidup di tengah pulau terpencil hingga berbulan-bulan lamanya,” kata Kepala Distrik Navigasi Kelas II Kupang, Nusa Tenggara Timur Paulus Tantu, SE kepada beritatrans.com dan Tabloid Mingguan Berita Trans.

Memang tidak semua menara suar berada di pulau-pulau terpencil, ada beberapa menara suar yang berlokasi di daerah yang telah ramai, bahkan ada juga yang berada di perkotaan.

Bagi para penjaga menara suar yang bertugas di daerah-daerah ramai dan perkotaan tidak terlalu menderita karena masih bisa berinteraksi dengan masyarakat yang tinggal di daerah sekitar. Tetapi bagi para penjaga menara suar yang bertugas di pulau-pulau terpencil, hanya kesepian lah yang menemani mereka.

“Kami memang selalu melakukan aplusing atau berjaga secara bergiliran setiap tiga bulan sekali. Jadi semua penjaga merasakan bertugas di menara suar yang terpencil atapun ramai. Hal itu untuk menghindari kebosanan, terutama rasa keadilan di antara para petugas,” kata Koordinator Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP) Disnav Kelas II Pontianak Mamre Pasutan.

Tiga bulan mungkin bukan waktu yang lama bagi mereka yang tinggal di perkotaan dan hidup di tengah-tengah serba ada, tetapi bagi yang tinggal di sebuah pulau terpencil yang jauh dari penduduk apalagi keramaian, serta serba terbatas, waktu tiga bulan akan terasa sangat lama. Apalagi bagi orang yang tidak terbiasa hidup terisolir.

“Tetapi bagi kami semua itu harus dijalani. Tugas di tempat ramai maupun di tempat terpencil tetap memiliki tanggung jawab yang sama yaitu menjaga agar cahaya menara suar tetap terang menyala,” kata Koordinator Menara Suar Pulau Ba’a, Kabupaten Rote, NTT, Petrus Slaweey.

Petrus yang telah bertugas lebih dari 20 tahun menjaga menara suar mengaku telah banyak mengalami pahit dan getirnya bertugas di pulau-pulau terpencil.

“Kesepian dan kekurangan makan sudah biasa. Yang paling susah kalau mengalami sakit. Kita tidak tahu harus minta tolong ke siapa,” kata Petrus yang baru 1 tahun bertugas di menara suar Pulau Ba’a bersama dua rekannya, Davidson Rehyar dan Jahman Ramlan Koli.

Kejadian itu pernah dialaminya saat bertugas di menara suar Tanjung Sasar di Pulau Sumba yang jaraknya dari Kupang sekitar 1 hari perjalanan laut. Bahkan dari penduduk terdekat yang tinggal di Pulau Sumba pun jarak ke menara suar Tanjung Sasar masih berkilo-kilometer dan harus ditempuh dengan berjalan kaki meniti karang terjal.

Neski demikian, mereka menyatakan bersyukur karena Menteri Perhubungan Ignasius Jonan amat memperhatikan kesejahteraan penjaga menara suar. “Tunjanvan kami naik tinggi. Terima kasih, Pak Menteri,” ungkap Petrus.(aliy)

loading...