Angkasa Pura 2

SROP Kupang Garda Terdepan Informasi Pelayaran Di Laut NTT

DermagaSunday, 24 January 2016

KUPANG (beritatrans.com) – Menara Suar, Rambu Suar, Pelampung Suar, dan Telekomunikasi Pelayaran (Telkompel), merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP) di setiap Kantor Distrik Navigasi (Disnav).

Menara Suar lebih banyak bertugas sebagai penanda bagi daerah-daerah atau alur pelayaran yang aman dan berbahaya bagi kapal. Sedangkan telekomunikasi pelayaran yang dioperasikan dari Stasiun Radio Pantai (SROP) lebih banyak betugas untuk memantau pergerakan kapal dan memberikan bantuan serta panduan melalui radio atau pun alat komunikasi lainnya kepada para nakhoda dalam berlayar agar selamat dan aman sampai tujuan.

Sama dengan SBNP lainnya, SROP juga dijaga dan diawasi serta dioperasionalkan selama 24 jam sehari dan 7 hari seminggu, alias nonstop tanpa henti.

Sepintas, pekerjaan sebagai petugas SROP tanpa lebih enak ketimbang penjaga menara suar. Petugas SROP bekerja di dalam ruangan bersih dan ber-AC. Lokasi SROP pun berada di perkotaan atau setidaknya bukan di pulau terpencil.

Selain itu, teknologi radio yang menjadi alat utama dalam melakukan tugasnya, tidak menuntut harus berkantor di daerah-daerah terpencil. Apalagi bila SROP sudah dilengkapi dengan fasilitas teknologi informasi yang berbasis satelit, cara kerjanya dapat dilakukan cukup di depan komputer.

“Meskipun demikian, tanggung jawab petugas SROP sangat besar. Mereka tidak boleh pasif menunggu informasi masuk. Justru petugas SROP dituntut proaktif melakukan komunikasi dengan berbagai pihak, terutama nakhoda-nakhoda kapal yang sedang berlayar di perairan wilayah kerja kami,” kata Kepala Distrik Navigasi Kelas II Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) Paulus Tantu, SE kepada beritatrans.com dan Tabloid Mingguan Berita Trans.

Petugas SROP memang harus terus bersiaga sepanjang waktu. Berjaga-jaga bila sewaktu-waktu ada panggilan dari kapal-kapal yang sedang berlayar meminta informasi arah dan alur pelayaran yang aman.

“Termasuk berjaga-jaga bila tiba-tiba ada panggilan darurat permintaan bantuan karena ada kapal kandas atau musibah lainnya,” kata Kepala SROP Kupang Disnav Kelas II Kupang, NTT Agnes P Loudoe.

Berdasarkan data yang diperoleh beritatrans, saat ini Disnav Kelas II Kupang memiliki 9 kantor SROP. Kantor-kantor ini adalah SROP Kupang yang merupakan SROP terbesar di Disnav Kupang. Kemudian SROP Seba, SROP Wingapu, SROP Reo, SROP Ende, SROP Maumere, SROP Larantuka, SROP Kalabahi, dan SROP Atapupu.

Kecuali SROP Kupang, kantor-kantor SROP di atas masing-masing dijaga oleh satu orang petugas. Sedangkan SROP Kupang yang menjadi SROP utama dijaga oleh 25 orang.

Dengan 33 orang petugas SROP tersebut di atas, Disnav Kupang menjadi garda terdepan bagi kebutuhan informasi pelayaran di laut Provinsi NTT. Lautan NTT dikenal sebagai perairan dengan gelombangnya yang ganas karena ada Samudera Hindia yang berbatasan langsung dengan Australia, Laut Timor yang berbatasan dengan Timor Leste, Laut Flores, dan Laut Sawu.

“Melalui Radio Console, para petugas kami selalu sigap memberi dan menerima informasi dari kapal. Bahkan secara berkala kami pun melakukan boardcast informasi melalu frekwensi tertentu yang pasti akan terpantau oleh setiap kapal yang menghidupkan radio monitornya,” kata Koordinator Telekomunikasi Pelayaran SROP Kupang Charles Samuel.

Disnav_Kupang_SROP

Beritatrans melihat alat telekomunikasi yang disebut Radio Console oleh Samuel tampaknya merupakan alat radio lama. Terlihat jelas dari tampilan fisik yang seperti kotak mesin cuci lama yang dipenuhi tombol-tombol manual.

“Tapi kemampuannya masih sangat andal pak,” kata Samuel ketika beritatrans bertanya tentang usia Radio Console itu.

Selain itu, kata Samuel, SROP Kupang juga mendapat fasilitas alat komunikasi baru dari kantor pusat (Kementerian Perhubungan) yaitu Ship Reporting System (SRS). Alat ini sudah menggunakan teknologi mutakhir dengan memadukan komunikasi visual dan voice melalui jaringan komputer.

“Kemampuannya hanya setingkat di bawah teknologi VTS (Vessel Traffic System),” kata Samuel.

Pemberian fasilitas SRS tersebut menurut Samuel merupakan bentuk perhatian dan kepedulian para pimpinan di kantor Kementerian Perhubungan terhadap peningkatan kinerja para Unit Pelaksana Teknis (UPT) di daerah.

“Kami berterima kasih sejak kepemimpinan Pak Menhun Jonan (Ignasius Jonan) Pak Dirjen (Bobby R Mamahit), dan Pak Dirnav (Bambang Wiyanto), banyak perubahan dan penambahan fasilitas kerja untuk kelancaran tugas kami di lapangan,” katanya. (aliy)