Angkasa Pura 2

Kereta Cepat Jakarta – Bandung Belum Kantongi Izin Pembangunan

EmplasemenSelasa, 26 Januari 2016
Kereta-cepat

JAKARTA (beritatrans.com) – Kereta cepat Jakarta – Bandung yang sudah dilakukan peletakan batu pertama atau ground breaking beberapa hari lalu oleh Presiden Joko Widodo ternyata masih belum mengantongi izin pembangunan. Akibatnya proyek yang menggunakan dana pinjaman dari China itu belum sepenuhnya dapat dilanjutkan.

Demikian keterangan yang disampaikan oleh Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Hermanto Dwiatmoko kepada sejumlah wartawan dalam diskusi di Jakarta, Senin (25/1/2016).

Menurut Hermanto, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) terlebih dahulu harus memiliki izin usaha penyelenggara prasarana perkeretaapian umum. Sehingga izin pembangunannya bisa keluar.

“Izin pembangunan tidak bisa keluar kalau izin usaha tidak keluar,” kata Hermanto seperti dilansir Antara.

Hermanto menjelaskan berdasarkan Peraturan Menteri Nomor 66 Tahun 2013 tentang Perizinan Penyelenggara Prasarana Perkeretaapian Umum, terdapat 11 dokumen yang harus dipenuhi PT KCIC, meliputi surat permohonan, rancang bangun, gambar teknis, data lapangan, jadwal pelaksanaan, spesifikasi teknis, analisis mengenai dampak lingkungan (amdal), metode pelaksanaan, izin lain sesuai dengan ketentuan perundangan, ada izin pembangunan, dan 10 persen lahan sudah dibebaskan.

Sementara itu, lanjut dia, untuk mengantongi izin usaha penyelenggaraan prasarana perkeretaapian umum, KCIC harus memiliki surat permohonan izin usaha, akta pendirian BHI, NPWP, surat keterangan domisili perusahaan, rencana trase jalur KA, surat penetapan penyelenggaraan prasarana, perjanjian penyelenggara prasaran dan perencanaan SDM perkeretapian, serta modal disetor Rp1 triliun.

Hermanto mengatakan bahwa pembangunan juga tidak bisa dilanjutkan meskipun 5 kilometer dari 95 kilometer yang beberapa lalu dijadikan untuk peletakan batu pertama (groundbreaking).

Ia mengatakan hal itu dikarenakan terdapat sejumlah dokumen yang belum dievaluasi karena masih berbahasa Tiongkok dan bahasa Inggris.

“Saya kembalikan (dokumennya), yang 5 kilometer juga belum bisa keluar (izinnya),” katanya.

Terkait dengan konsesi yang diatur dalam butir perjanjian penyelenggara sarana yang merupakan syarat diterbitkannya izin usaha penyelenggaraan prasarana perkeretaapian umum, Hermanto berharap pada hari Kamis pekan ini selesai.

“Mudah-mudahan Kamis ini bisa ditandatangani, tetapi harus clear,” katanya.

Hermanto menjelaskan jangka waktu konsesi tersebut 50 tahun. Setelah beroperasi, harus dikembalikan kepada pemerintah.

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa penyerahan aset tersebut harus memenuhi persyarat, di antaranya tidak boleh ada utang, tidak boleh ada aset yang diagunkan, dan kereta cepat tersebut harus dalam kondisi yang layak beroperasi.

“KCIC bilang 40 tahun sudah break even point (balik modal). Kalau gagal, pemerintah tidak bertanggung jawab,” katanya. (aliy)