Angkasa Pura 2

Pakar: PBNU Bisa Angkat Isu Angkutan Pedesaan Yang Kini Memprihatinkan

Koridor SDMMinggu, 7 Februari 2016
Angkot Bekasi

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Setelah PP Muhammadyah sukses adakan diskusi publik tentang pro kontra kereta cepat, giliran ormas Islam lain melakukan aksi serupa. PBNU dengan jaringan pesantrennya bisa mengangkat isu angkutan pedesaan yang kini sangat memprihatinkan.

Demikian disampaikan Kepala Lab Transportasi Unika Soegijopranoto Semarang Djoko Setijowarno,ST, MT kepada BeritaTrans.com di Jakarta, Minggu (7/2/2016).

“Masalah proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung harus dibuka seluas-luasnya ke masyarakat. Jangan ada yang ditutupi, karena apapun adanya mereka adalah pemilik sah negeri ini,” kata Djoko.

Menurutnya, kini giliran PBNU dan pesantren sebaiknya mengadakan diskusi membahas angkutan pedesaan yang tak kalah memprihatinkan.

“Kaum Nahdliyin dengan basis pesantren memiliki ribuan santri di seluruh Tanah Air,” jelas Djoko.

Bukan hanya itu, lanjut dia, kaum santri dan pesantren kebanyakan ada di desa. “Dengan kata lain, mereka tahu persis dan sekaligus pengguna angkutan pedesaan yang kini sangat memprihatinkan itu,” papar Ketua MTI Jawa Tengah itu.

Oleh karena itu, tukas dia, sudah selayaknya jika pesantren ikut urun rembug, membahas dan memberikan masukan mengenai pembangunan dan pengelolaan angkutan pedesaan yang ideal di masa depan.

“Kaum nahliyin mempunyai banyak pakar dan ahli tentang transportasi. Selain itu, membangun angkutan desa dengan perspektif pesantren atau konsumen di desa sudah sepantasnya di dengar dan diakomodasikan,” kilah Djoko.

Tak ada istilah terlambat membangun angkutan umum di pedesaan. Justru angkutan pedesaan akan menjadi media pembangunan ekonomi dan pemberdayaan wilayah desa di Tanah Air.

“Membangun angkutan pedesaan sama dengan membangun desa sekaligus ekonomi di desa. Jika semua itu bisa dilakukan, maka akan ada percepatan, pemerataan pembangunan sekaligus mencegah urbanisasi di Indonesia,” tegas Djoko.(helmi)

loading...